Tanjungtv.com – Komitmen pengawasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Nusa Tenggara Barat (NTB) memasuki babak evaluasi serius. Sebanyak 21 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah kabupaten/kota resmi dihentikan sementara operasionalnya menyusul temuan berbagai persoalan di lapangan.
Ketua Satgas MBG NTB, Fathul Gani, merinci penghentian sementara itu tersebar di sejumlah daerah. Di Mataram, Lombok Barat, dan Lombok Tengah masing-masing satu unit. Sementara Lombok Timur dan Bima masing-masing empat unit.
Di Sumbawa dan Dompu masing-masing tiga unit. Sedangkan Sumbawa Barat dan Lombok Utara masing-masing dua unit. Untuk Kota Bima, nihil penghentian.
Menurut Fathul, kewenangan pemberian sanksi sepenuhnya berada di tangan Badan Gizi Nasional (BGN). Namun, rekomendasi penghentian biasanya lahir dari hasil temuan dan laporan di tingkat bawah.
“Biasanya kan tujuh hari evaluasi,” ujar Asisten I Setda NTB tersebut.
Evaluasi Ketat dan Investigasi
Penghentian sementara dilakukan setelah ditemukan persoalan serius, mulai dari status kepemilikan hingga kasus keracunan. Temuan tersebut dinilai tidak bisa ditoleransi karena menyangkut keamanan pangan bagi peserta didik.
Kepala Regional SPPG NTB, Eko Prasetyo, menegaskan langkah ini merupakan bagian dari penguatan sistem pengawasan BGN agar pelayanan pemenuhan gizi berjalan sesuai standar.
“Ini merupakan komitmen pengawasan dan evaluasi pelayanan pemenuhan gizi agar berjalan lebih optimal,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas insiden keracunan yang terjadi di sejumlah wilayah NTB. Menurutnya, penghentian operasional langsung diberlakukan untuk memberi ruang investigasi menyeluruh.
Data SPPG Aktif di NTB
Satgas MBG NTB mencatat, saat ini terdapat 706 SPPG aktif di seluruh NTB. Dari jumlah tersebut, 592 unit sudah melayani, 114 unit belum melayani, dan 21 unit dihentikan sementara.
Fathul menekankan, program MBG bukan sekadar distribusi makanan, melainkan bagian dari pemenuhan kebutuhan dasar anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Penerima manfaatnya mencakup peserta didik dari jenjang TK, PAUD, SD, SMP hingga SMA.
“Ini generasi muda kita yang harus dilayani dengan baik, siapkan gizinya dengan baik,” tandasnya.
Dengan evaluasi ketat yang kini dijalankan, pemerintah berharap ke depan tidak ada lagi celah dalam aspek keamanan pangan dan kualitas layanan, sehingga program MBG benar-benar memberikan manfaat optimal bagi anak-anak NTB.















