Tanjungtv.com – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah menghadapi tantangan serius di sektor ketenagakerjaan. Jumlah pengangguran meningkat tajam, terutama dari kalangan lulusan perguruan tinggi yang tidak terserap dunia kerja.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat, pada Agustus 2025 jumlah pengangguran mencapai 97,93 ribu orang. Angka ini naik 10,92 ribu orang dibandingkan periode sebelumnya.
Fenomena ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah, sebab peningkatan jumlah sarjana yang seharusnya menjadi mesin pembangunan justru kini menjadi penyumbang terbesar angka pengangguran terbuka di NTB.
Kesenjangan Kompetensi Jadi Akar Masalah
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB, Muslim, menjelaskan bahwa akar persoalan meningkatnya pengangguran terletak pada ketidakseimbangan antara jumlah lulusan perguruan tinggi dan ketersediaan lapangan kerja di daerah.
“Contoh sederhana, satu universitas bisa melaksanakan wisuda hingga empat kali dalam setahun. Sementara perusahaan tetap memiliki standar kompetensi tertentu yang tidak selalu bisa dipenuhi oleh lulusan tersebut,” jelas Muslim, Kamis (6/11).
Ia menambahkan, kesenjangan keterampilan (skill mismatch) menjadi salah satu tantangan utama dunia ketenagakerjaan di NTB. Banyak lulusan sarjana dinilai belum memiliki kemampuan teknis dan pengalaman yang dibutuhkan dunia industri.
Pemprov Siapkan Strategi Penyerapan Tenaga Kerja
Untuk mengatasi persoalan ini, Pemprov NTB bersama Disnakertrans tengah menyiapkan program pelatihan berbasis kebutuhan industri (demand driven training) dan memperkuat kerja sama dengan dunia usaha serta dunia pendidikan.
Program ini diarahkan agar lulusan perguruan tinggi dan sekolah kejuruan bisa memiliki kompetensi siap kerja, terutama pada sektor-sektor unggulan daerah seperti pariwisata, industri pengolahan, energi terbarukan, dan ekonomi digital.
Selain itu, pemerintah juga mendorong pertumbuhan wirausaha muda dan UMKM berbasis inovasi sebagai salah satu solusi mengurangi ketergantungan terhadap lapangan kerja formal.
“Kita ingin membangun paradigma baru, bahwa sarjana tidak selalu harus mencari kerja, tapi juga bisa menciptakan lapangan kerja,” pungkas Muslim.















