Tanjungtv.com — Tiga gili di Lombok Utara Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air kembali menjadi sorotan. Bukan karena keindahan alamnya semata, tetapi karena potensi ekonominya yang luar biasa besar. Jika dikelola optimal, potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari kawasan ini disebut-sebut bisa menembus Rp700 miliar per tahun, dua kali lipat dari realisasi sebelumnya.
Anggota DPRD Lombok Utara Raden Nyakradi menegaskan, potensi tersebut bukan sekadar hitung-hitungan optimistis. Berdasarkan kajian Bappeda KLU, angka Rp700 miliar itu merupakan hasil analisis realistis dari aktivitas ekonomi dan pariwisata yang kian menggeliat di tiga gili.
“Kajian Bappeda menunjukkan PAD tiga gili bisa mencapai Rp700 miliar. Tapi yang jadi masalah, pengelolaannya masih belum maksimal,” ujarnya.
Menurut politisi Partai Golkar itu, angka besar tersebut belum berani dijadikan target resmi oleh pemerintah daerah. Padahal, jika potensi ini dimaksimalkan, total PAD Lombok Utara bisa menembus Rp1 triliun per tahun, mengingat masih ada sumber pendapatan lain dari sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata di luar tiga gili.
Nyakradi menilai, kunci untuk membuka “pintu emas” PAD ini adalah kolaborasi dan transparansi. Pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat lokal harus bergerak bersama memperkuat tata kelola retribusi dan memastikan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat.
“Transparansi dan efektivitas pengelolaan retribusi di kawasan wisata adalah kuncinya. Tanpa itu, potensi besar akan tetap jadi angka di atas kertas,” tegasnya.
Sementara itu, Asisten III Setda KLU Wahyu Darmawan mengungkapkan bahwa target PAD saat ini masih berada di kisaran Rp300 miliar. Namun ia tetap optimistis, peningkatan signifikan akan terjadi seiring dengan perbaikan sistem dan infrastruktur pendukung.
Menurut Wahyu, pemerintah kini tengah fokus pada penataan kawasan wisata, penguatan sistem pajak dan retribusi, serta peningkatan keamanan dan kenyamanan wisatawan. Semua langkah ini diharapkan menjadi fondasi untuk mengoptimalkan potensi besar yang dimiliki tiga gili.
“Kami sedang memperkuat fondasi. Jika semuanya tertata, potensi itu bukan lagi sekadar wacana, tapi akan menjadi sumber utama kemandirian fiskal daerah,” pungkasnya.
Dengan langkah yang tepat, tiga gili bukan hanya ikon pariwisata Lombok Utara, tetapi juga bisa menjadi “mesin emas” PAD yang menggerakkan ekonomi daerah secara berkelanjutan.















