Seni Kasidah Jadi Ruang Pemberdayaan Perempuan, Inak-Inak Paon Tanjung Mantapkan Latihan Jelang Pentas Desember

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com – Di tengah gempuran modernisasi, kelompok seni perempuan Inak-Inak Paon di Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, menjadikan panggung seni tradisi sebagai medium pemberdayaan dan penguatan peran perempuan di desa. Setiap malam, dentuman rebana dan lantunan kasidah dari kelompok ini menjadi bukti bagaimana seni mampu menciptakan ruang berkegiatan yang produktif bagi ibu-ibu desa.

Bukan sekadar latihan menjelang pentas budaya awal Desember mendatang, aktivitas Inak-Inak Paon kini berkembang menjadi wadah pembelajaran, solidaritas, dan peningkatan kapasitas. Para anggotanya terlihat serius dan penuh semangat saat berlatih, gerakan mereka kompak, sementara suara vokal kasidah terus diasah agar lebih matang.

banner 325x300

Dalam salah satu sesi, seorang anggota memimpin pembacaan syair menggunakan mikrofon, sementara anggota lainnya mengikuti gerak ritmis dengan percaya diri. Latihan ini tidak berjalan sendiri. Para dosen dan mahasiswa Universitas Bumigora hadir mendampingi, memberi penguatan mulai dari teknik vokal, koreografi, tata visual, hingga manajemen pertunjukan.

Pendampingan intensif ini menciptakan suasana latihan yang lebih terstruktur dan memberikan perubahan nyata pada kualitas penampilan kelompok.
“Dengan bimbingan dari Universitas Bumigora, latihan kami menjadi lebih terarah. Ibu-ibu lebih percaya diri dan makin kompak setiap harinya,” kata Lili Irmayati, ketua kelompok Inak-Inak Paon.

Kepala Desa Sigar Penjalin, Zawil Fadli, melihat semangat kelompok ini sebagai wujud nyata gerakan pelestarian budaya yang tumbuh dari akar masyarakat.
“Kami bangga melihat semangat Inak-Inak Paon dalam melestarikan seni tradisi. Kolaborasi dengan Universitas Bumigora sangat membantu meningkatkan kualitas penampilan mereka,” jelasnya.

Selain pendampingan kampus, kelompok ini juga mendapat dukungan dari Kemendiktisaintek serta program Kemenristek Berdampak. Dukungan tersebut tidak hanya menghadirkan sarana, tetapi juga membuka akses bagi perempuan desa untuk terlibat aktif dalam kegiatan budaya yang produktif.

“Terima kasih atas ruang dan dukungan yang diberikan, sehingga kegiatan pemberdayaan seni ini dapat berjalan baik dan memberi dampak nyata bagi warga,” tambah perwakilan kelompok.

Menjelang pentas awal Desember, suara rebana yang menggema di malam hari tidak lagi sekadar latihan seni. Itu adalah tanda bahwa perempuan desa kini semakin berdaya, semakin percaya diri, dan menjadi motor pelestarian budaya lokal.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *