Tanjungtv.com – Di tengah kabar menggembirakan tentang meningkatnya kesehatan terumbu karang di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Gili Meno, Gili Trawangan, dan Gili Air (Gili Matra), sebuah ancaman ekologis baru justru muncul di zona inti konservasi. Alga jenis Halimeda terdeteksi mulai menguasai area terumbu karang dan dinilai dapat mengganggu proses pemulihan yang telah berlangsung selama tiga tahun terakhir.
Penata Perizinan Ahli Muda BKKPN Kupang, Hotmariyah, menjelaskan bahwa zona inti selama ini menjadi indikator keberhasilan pengelolaan konservasi. Namun, invasi Halimeda sejak 2023 menjadi sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan.
“Secara umum terumbu karang stabil bahkan meningkat. Tapi invasi Halimeda ini mengkhawatirkan karena pertumbuhannya jauh lebih cepat daripada karang,” ujarnya kepada Lombok Post, kemarin (20/11). Jika tidak ditangani, alga tersebut berpotensi menutupi area karang dan memicu kematian massal.
Untuk mengantisipasi kerusakan lebih besar, BKKPN Kupang telah menggandeng akademisi Universitas Mataram dan para pemangku kepentingan guna menyusun langkah mitigasi. Rangkaian kajian lapangan akan dilakukan untuk menentukan metode penanganan yang paling efektif.
Di sisi lain, kondisi umum terumbu karang di Gili Matra sebenarnya menunjukkan pemulihan signifikan. Survei terbaru tahun 2025 mencatat tutupan karang keras hidup mencapai 40,71 persen, meningkat dari 29,06 persen pada 2022. Kategori tersebut masuk dalam kondisi “cukup baik” dan menjadi tanda positif bagi ekosistem yang sempat tertekan aktivitas wisata dan perubahan iklim.
Namun tidak semua komponen ekosistem memperlihatkan tren membaik. Padang lamun justru mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir. Dari 11 titik pengamatan, beberapa lokasi kini masuk kategori jarang. Penurunan tutupan lamun memicu kekhawatiran tersendiri karena lamun berperan sebagai rumah bagi berbagai biota laut serta menjaga kestabilan pesisir.
PEL P Ahli Muda BKKPN Kupang, Martanina, menjelaskan penyebab degradasi lamun masih perlu dikaji lebih dalam. Faktor aktivitas wisata, pergerakan masyarakat, hingga sedimentasi alami masih menjadi dugaan awal. “Ini masih memerlukan penelitian lanjutan,” tegasnya.
Sebagai langkah komprehensif, BKKPN Kupang kini membuka forum diseminasi monitoring ekosistem untuk menerima masukan dari akademisi, NGO, hingga komunitas konservasi. Harapannya, seluruh elemen ekosistem di Gili Matra—baik terumbu karang maupun lamun—dapat dikelola secara adaptif dan menghadapi ancaman ekologis dengan strategi yang lebih matang.
“Kami ingin memastikan seluruh target konservasi berjalan stabil dan semakin baik ke depan,” tutup Martanina.















