Pemuda Gondang Gerakkan “Revival Budaya”: Turnamen Gasing Jadi Simbol Perlawanan terhadap Modernisasi

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com – Momentum pelestarian budaya di Lombok Utara menemukan semangat barunya. Bukan dari ruang-ruang formal, melainkan dari tangan para pemuda Desa Gondang yang sukses menghidupkan kembali permainan tradisional melalui Turnamen Gasing bertema “Dari Tradisi untuk Generasi, Budaya Tak Pernah Mati”.

Turnamen yang ditutup secara resmi oleh Wakil Bupati Lombok Utara, Kusmalahadi Syamsuri, S.T., M.T., pada Jumat (28/11/2025) ini bukan hanya ajang kompetisi. Ia menjelma menjadi panggung besar yang menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki denyut kuat di tengah derasnya arus teknologi dan hiburan modern.

banner 325x300

Pemuda Jadi Motor Kebangkitan Budaya

Inisiatif para pemuda Gondang mendapat apresiasi tinggi dari Wabup Kusmalahadi. Menurutnya, gerakan pelestarian budaya akan bertahan lama ketika lahir dari akar rumput—dari generasi muda yang sadar akan identitas daerahnya.

“Turnamen gasing ini adalah bukti bahwa budaya kita tidak akan pernah mati. Selama ada generasi yang mau menjaga, tradisi akan tetap hidup,” ujar Wabup. Ia juga memastikan bahwa antusiasme besar masyarakat menjadi alasan kuat agar turnamen ini digelar rutin tiap tahun.

Dari Lapangan Desa Menuju Event Budaya Berkelas

Wabup mengungkapkan bahwa ini merupakan turnamen gasing kedua setelah sebelumnya digelar di Karang Jurang, Desa Segara Katon. Ia menilai perkembangan penyelenggaraan yang makin kreatif menunjukkan potensi besar event ini untuk diperluas ke tingkat kabupaten, bahkan regional.

Harapannya, suatu hari turnamen gasing dapat menjadi magnet budaya yang membanggakan Lombok Utara dan mengundang peserta dari berbagai daerah.

Gasing, Akar yang Menghubungkan Generasi

Bagi Pemerintah KLU, permainan tradisional bukan sekadar hiburan. Ia adalah simbol karakter, warisan nilai, dan identitas masyarakat. Turnamen seperti ini diharapkan mampu memperkenalkan kembali budaya lokal kepada generasi muda yang semakin jauh dari permainan tradisional.

“Budaya adalah akar kehidupan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang,” tutur Wabup.

Para Juara Sang Penjaga Tradisi

Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati secara langsung menyerahkan hadiah kepada para pemenang:

Juara I : Peripih Diriq

Juara II : Konoha Sebaro

Juara III : Tornado

Harapan I : Peripih Diriq (Club II)

Ajang ini menjadi catatan penting bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar pemerintah, namun juga dapat tumbuh kuat dari tangan komunitas dan pemuda desa.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *