Tanjungtv.com – Rapat Koordinasi Tim Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (TP3S) di Kabupaten Lombok Utara tahun ini tidak hanya menjadi ruang evaluasi program, tetapi juga menyingkap kembali persoalan mendasar: kesenjangan data stunting yang masih jauh dari kata akurat. Perbedaan antara data E-PPGBM yang menunjukkan angka 13,57 persen dan data SSGI yang mencapai 35,2 persen menjadi sorotan utama dalam forum yang digelar di Aula Bupati, Senin (1/12).
Wakil Bupati Kusmalahadi Syamsuri selaku Ketua TP3S menegaskan bahwa sinkronisasi data dan penguatan sistem digital adalah kunci percepatan penurunan stunting. Menurutnya, tanpa data yang presisi, kebijakan yang dibuat hanya berpotensi menjadi bias dan tidak tepat sasaran.
“Koordinasi itu penting, tetapi akurasi data jauh lebih penting. Kita butuh pencatatan digital yang rapi supaya daerah dan pusat berbicara dengan angka yang sama,” tegas Wabup Kus.
Ia juga mengapresiasi kerja semua pihak yang telah terlibat dalam program pengentasan stunting, termasuk kolaborasi dengan perbankan, NGO, hingga partisipasi masyarakat melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). Namun ia menekankan kembali bahwa program yang baik harus dibarengi dengan monitoring yang berbasis data real-time.
Dalam kesempatan itu, Wabup juga menyinggung capaian Lombok Utara yang berhasil mencatat penurunan angka kemiskinan 3,2 persen, salah satu yang terbaik secara nasional. Ia berharap torehan tersebut berjalan selaras dengan turunnya angka stunting.
Dari pihak BKKBN Provinsi NTB, Sekretaris Johari Effendi menekankan pentingnya konsistensi menjalankan program Quick Wins, seperti Gerakan Ayah Teladan, Taman Asuh Sayang Anak, dan pendampingan keluarga berisiko stunting. Ia mengingatkan bahwa survei SSGI tinggal satu bulan lagi, sehingga ia meminta semua pihak bekerja lebih serius.
“Kalau data tidak sinkron, survei SSGI nanti tidak akan mencerminkan upaya kita di lapangan. Jadi ini pekerjaan bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Kadis P2KBPMD KLU Atmaja Gumbara menyebut bahwa perbedaan angka stunting yang cukup jauh antara E-PPGBM dan SSGI menjadi alarm penting bagi semua OPD. Rakor TP3S tahun ini, katanya, tidak hanya menjadi momentum evaluasi, tetapi juga titik balik untuk menyatukan sistem informasi dan mekanisme pelaporan.
Acara kemudian dirangkaikan dengan pemberian bantuan telur kepada sasaran stunting serta pemaparan materi oleh para narasumber.















