Dampak Penutupan Tambang Galian C di Kali Rumpang Ekonomi Lokal Terhenti, Warga Berteriak”

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com – Penutupan paksa tambang galian C yang berada di sepanjang bantaran Kali Rumpang, dari Desa Kalijaga, Kecamatan Aikmel hingga Korleko, Kecamatan Labuhan Haji, telah menimbulkan keresahan besar di kalangan pengusaha tambang dan masyarakat setempat. Penutupan ini terjadi setelah aksi demo ratusan warga Desa Korleko di Kantor DPRD Lombok Timur, Polres, dan Kantor Bupati Lotim pada Senin (30/9). Tak hanya tambang tanpa izin, usaha tambang yang telah mengantongi izin resmi pun turut terdampak.

Ketua Asosiasi Tambang Galian C Lombok Timur, H. Maidy, angkat bicara mengenai situasi ini. Ia menegaskan bahwa penutupan tambang sangat memukul sektor ekonomi di sekitar Kali Rumpang, tidak hanya bagi pengusaha, tetapi juga buruh dan pedagang yang menggantungkan hidup dari aktivitas tambang. “Setelah ditutup, kami sudah menghentikan semua kegiatan untuk menjaga situasi tetap kondusif. Namun, dampaknya sangat terasa, baik bagi pengusaha maupun pekerja yang menggantungkan hidup dari tambang,” ungkap Maidy.

banner 325x300

Dampak Ekonomi yang Meluas
Tambang galian C di Kali Rumpang mempekerjakan sekitar 20 orang di setiap usaha. Dengan adanya 12 tambang di sepanjang kali ini, ratusan orang kehilangan pekerjaan dalam sekejap. “Ini bukan hanya tentang pengusaha, tetapi juga ratusan buruh yang kehilangan mata pencaharian mereka. Selain itu, pembangunan di Lombok Timur pun terhambat karena kekurangan material pasir,” tambah Maidy.

Ia juga menyoroti potensi lonjakan angka kriminalitas akibat hilangnya sumber penghidupan bagi para buruh. “Mereka yang bekerja di tambang ini tidak punya sawah atau usaha lain untuk menggantikan pekerjaan mereka. Jika situasi ini terus berlanjut, angka kriminalitas bisa saja meningkat,” jelasnya.

Selain itu, penutupan tambang juga berdampak pada sektor usaha kecil, seperti pedagang yang biasa menjual makanan dan minuman di sekitar lokasi tambang. Dengan berkurangnya aktivitas, pendapatan mereka pun menurun drastis. “Biasanya, sopir truk membeli makanan dan minuman dari kami, tapi sekarang tidak ada yang datang,” keluh salah satu pedagang setempat.

Manfaat Tambang untuk Perekonomian Lokal
Menurut Maidy, tambang galian C tidak hanya menjadi sumber pekerjaan, tetapi juga membantu dalam pembukaan lahan pertanian baru. Banyak lahan bekas tambang yang digarap masyarakat dan diubah menjadi sawah produktif. “Sejauh ini, ratusan hektar sawah baru telah dibuka dari lahan bekas tambang, yang tentu saja sangat membantu ekonomi masyarakat sekitar,” katanya.

Namun, Maidy berharap pemerintah daerah dapat segera mencari solusi agar tambang bisa beroperasi kembali. “Kami membutuhkan regulasi yang bisa menengahi kepentingan masyarakat dan pengusaha. Kami siap duduk bersama pemerintah daerah dan masyarakat untuk mencari jalan keluar,” ujarnya.

Kebutuhan Regulasi yang Jelas
Maidy juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap stigma negatif yang selalu melekat pada tambang galian C. “Tambang sering dianggap sebagai sumber pencemaran lingkungan, padahal kami telah beroperasi sesuai dengan standar operasional yang ditetapkan. Kami juga selalu melakukan pembuangan limbah dua kali seminggu sesuai kesepakatan dengan masyarakat,” tegasnya.

Sebagai Ketua Asosiasi, Maidy menyebut bahwa sekitar 78 usaha tambang galian C di Lombok Timur telah bergabung dalam asosiasi, dengan 42 di antaranya telah mengantongi izin resmi. “Kami berharap aktivitas tambang yang telah ditutup bisa segera dibuka kembali dan bisa berjalan kondusif seperti semula,” tutup Maidy.

Suara dari Pelaku Usaha Lain
Zulkarnaen, pelaku usaha tambang di Dusun Lendang Bur, Desa Kalijaga Baru, Kecamatan Aikmel, juga menyampaikan kekhawatirannya. “Kami sudah beroperasi sesuai dengan SOP yang ada, termasuk membuang limbah dua kali seminggu dan menyiapkan kolam pencucian. Selain itu, kami juga rutin menyetor Pendapatan Asli Daerah (PAD),” katanya.

Menurut Zulkarnaen, tambangnya menyetor PAD sebesar Rp 5-9 juta per minggu, dengan rata-rata Rp 20 juta per bulan atau Rp 200 juta per tahun. “Kami juga mempekerjakan puluhan masyarakat sekitar tambang. Kini setelah ditutup, sekitar 40 pekerja terpaksa menganggur,” tambahnya.

Kisah Buruh yang Kehilangan Pekerjaan
Amaq Habi, seorang buruh di tambang galian C, mengungkapkan rasa kecewanya. “Kami bekerja di tambang ini selama bertahun-tahun. Setelah tambang ditutup, kami tidak tahu lagi harus mencari makan di mana. Kami tidak punya sawah seperti yang lain,” ungkapnya dengan nada putus asa.

Amaq Habi berharap pemerintah segera membuka kembali tambang agar masyarakat kecil seperti dirinya bisa kembali bekerja. “Kami hanya ingin tempat untuk mencari makan kembali dibuka. Kami sangat bergantung pada tambang ini untuk menghidupi keluarga,” tandasnya.

Penutupan tambang galian C di Kali Rumpang menjadi contoh nyata dari dilema antara pembangunan ekonomi lokal dan isu lingkungan yang kerap kali menjadi sorotan. Sementara masyarakat yang terlibat dalam tambang berharap solusi cepat, tantangan untuk menjaga keseimbangan antara kelestarian lingkungan dan kebutuhan ekonomi masih terus berlangsung.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *