Tanjungtv.com — Upaya pemulihan ekosistem laut di kawasan konservasi Gili Matra memasuki babak baru setelah Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang wilayah kerja Gili Meno, Trawangan, dan Air bergerak cepat mengoordinasikan aksi pembersihan alga Halimeda dalam skala besar. Lonjakan pertumbuhan alga itu kembali terpantau mendominasi zona inti konservasi, memicu kekhawatiran akan menurunnya kesehatan terumbu karang.
Berbeda dari penanganan rutin sebelumnya, operasi yang dilakukan pada 10–11 Desember 2025 ini mengusung pola kolaborasi lintas sektor, melibatkan NGO lingkungan, komunitas serta pelaku jasa diving, mahasiswa Universitas Mataram (Unram), hingga wisatawan yang secara sukarela turun ke laut membantu pengangkatan alga.
“Ini bukan hanya operasi teknis, tetapi gerakan bersama untuk menjaga perairan Gili Matra. Respons cepat menjadi kunci untuk menahan dominasi Halimeda,” ujar anggota BKKPN Kupang, Hotmariyah, Kamis (11/12).
Menurutnya, alga Halimeda memiliki kecepatan tumbuh jauh lebih agresif dibandingkan terumbu karang, sehingga bila dibiarkan dapat menutup permukaan karang dan mempercepat proses degradasi habitat. Zona inti, sebagai indikator utama keberhasilan pengelolaan konservasi, menjadi wilayah paling prioritas untuk intervensi.
Sepanjang 2025, hasil pemantauan BKKPN menunjukkan kondisi terumbu karang Gili Matra masih tergolong baik dengan tutupan karang keras hidup mencapai 40,71 persen. Namun tekanan ekologis mulai terasa di beberapa indikator penting, seperti penurunan tutupan lamun dan berkurangnya populasi ikan karang, menandai ekosistem sedang mengalami tekanan yang membutuhkan respons cepat.
Aksi bersih laut selama 48 jam ini diharapkan mampu menekan ledakan Halimeda, membuka kembali ruang tumbuh bagi karang muda, dan menjaga keseimbangan ekologis kawasan konservasi. “Langkah mitigasi dini seperti ini sangat penting untuk memastikan Gili Matra tetap lestari bagi generasi mendatang,” tegas Hotmariyah.
BKKPN Kupang menargetkan aksi kolaboratif tersebut dapat menjadi model pengelolaan responsif, sekaligus meningkatkan partisipasi publik dalam menjaga keberlanjutan kawasan Gili Matra. Dengan dukungan komunitas, mitigasi ini diyakini mampu mencegah dampak ekologis yang lebih luas di masa depan.















