Tanjungtv.com — Kabupaten Lombok Utara (KLU) menyimpan potensi zakat yang sangat besar, mencapai Rp109 miliar per tahun. Namun realisasi pengumpulannya hingga akhir 2025 baru menyentuh angka Rp4,2 miliar. Kesenjangan tajam ini mendorong pemerintah daerah dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) KLU mencari strategi baru agar zakat benar-benar menjadi kekuatan ekonomi umat.
Bupati KLU Najmul Akhyar menilai rendahnya realisasi zakat bukan semata persoalan teknis, melainkan lemahnya pengelolaan berbasis akar rumput. Ia menegaskan, desa harus ditempatkan sebagai pusat pengelolaan zakat melalui penguatan Unit Pengumpul Zakat (UPZ).
“Desa adalah sumber utama zakat, mulai dari pertanian, peternakan, hingga profesi. Jika UPZ desa kuat, maka jurang antara potensi dan realisasi bisa dipersempit,” ujar Najmul, Sabtu (27/12).
Menurutnya, zakat tidak boleh berhenti pada pencatatan administratif. Diperlukan pemetaan potensi yang jelas, basis data muzakki yang akurat, serta pola distribusi yang tepat sasaran. Pemda juga mendorong agar dana zakat diarahkan ke program produktif agar manfaatnya berkelanjutan dan mampu menekan angka kemiskinan.
Senada dengan itu, Ketua Baznas KLU Slamet Riadi mengungkapkan bahwa sebagian besar potensi zakat KLU memang berada di wilayah desa, khususnya dari sektor pertanian dan peternakan. Namun, keterbatasan pendataan serta masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat menjadi tantangan utama.
“Potensi zakat kita besar, tapi belum tergarap optimal. Karena itu, fokus kami ke depan adalah memperkuat UPZ desa agar pengumpulan zakat lebih tertib, terdata, dan berkelanjutan,” jelas Slamet.
Baznas KLU menargetkan lonjakan signifikan pengumpulan zakat pada 2026 melalui pendataan muzakki yang lebih menyeluruh, intensifikasi sosialisasi kewajiban zakat, serta penguatan koordinasi dengan pemerintah desa. Dengan langkah tersebut, zakat diharapkan tidak hanya menjadi ibadah individu, tetapi juga instrumen strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat KLU.















