Tanjungtv.com — Tingginya potensi bencana alam di Kabupaten Lombok Utara (KLU) mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk mengalihkan fokus penguatan kesiapsiagaan hingga ke tingkat keluarga. Dari sedikitnya 11 jenis ancaman bencana yang ada, Kecamatan Pemenang tercatat sebagai wilayah paling rawan.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD KLU, Datu Aryanata, mengatakan bahwa tantangan utama penanggulangan bencana di KLU bukan hanya pada faktor alam, tetapi juga kesiapan masyarakat dalam merespons risiko yang ada.
“Kami ingin kesiapsiagaan tidak berhenti di tataran kebijakan atau aparat, tetapi benar-benar dipahami dan dipraktikkan di dalam keluarga,” ujarnya, Sabtu (3/1).
Menurutnya, masyarakat KLU hidup di wilayah yang menuntut kewaspadaan sepanjang waktu. Di Kecamatan Pemenang sendiri, bencana seperti tanah longsor, banjir, kekeringan, hingga kebakaran lahan hampir selalu muncul setiap tahun, terutama saat pergantian musim.
Untuk itu, BPBD mengintensifkan program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dengan melibatkan berbagai unsur lokal, mulai dari kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga tokoh perempuan. Pendekatan ini dinilai efektif karena pesan mitigasi disampaikan melalui figur yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.
“Ketika tokoh-tokoh lokal ikut berbicara, pesan kesiapsiagaan akan lebih mudah diterima dan diterapkan dalam kehidupan keluarga,” jelas Datu yang juga menjabat Camat Pemenang.
Selain edukasi, BPBD KLU juga memperkuat kolaborasi lintas sektor. Dalam menghadapi kekeringan, BPBD bersinergi dengan Dinas Sosial serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak.
Upaya peningkatan kapasitas masyarakat turut dilakukan melalui sekolah lapang kebencanaan bersama BMKG serta kemitraan dengan lembaga kesiapsiagaan hasil kolaborasi Pemerintah Indonesia dan Australia. Dari sisi lingkungan, langkah mitigasi diwujudkan melalui kegiatan penghijauan di wilayah hulu Dusun Terengan, Desa Pemenang Timur, guna menekan risiko banjir dan longsor.
Melalui pendekatan berbasis keluarga dan komunitas ini, BPBD KLU berharap masyarakat tidak lagi hanya bersikap reaktif saat bencana terjadi, melainkan tumbuh sebagai komunitas yang sadar risiko, mandiri, dan tangguh menghadapi ancaman bencana alam yang dapat datang kapan saja.















