Pariwisata KLU Bangkit dengan Kearifan Lokal: DPRD Dorong “Parade Jong Bayan” Jadi Event Nasional

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com — Kabupaten Lombok Utara (KLU) tengah mempersiapkan gebrakan baru di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang berakar dari kekayaan budaya asli. Komisi II Bidang Ekonomi dan Pariwisata DPRD KLU secara aktif mendorong Pemerintah Daerah untuk menggelar ekshibisi besar Parade Jong Bayan pada tahun 2026. Inisiatif ini tidak hanya dimaksudkan sebagai pertunjukan budaya, melainkan sebagai strategi promosi pariwisata berkelas yang mengangkat identitas lokal ke panggung nasional dan internasional.

Anggota Komisi II DPRD KLU, Artadi, S.Sos., menegaskan komitmennya untuk mewujudkan event tersebut. “Sudah saya sampaikan beberapa kali kepada Dinas Pariwisata dan Dikbudpora supaya pada tahun 2026 Parade Jong Bayan bisa dilaksanakan. Kita perlu menonjolkan entitas adat, budaya, dan pariwisata sebagai kekayaan daerah,” ujarnya, Senin (15/9/2025).

banner 325x300

Jong Bayan: Lebih dari Sekadar Pakaian, Sebuah Warisan Luhur

Jong Bayan bukan sekadar busana adat biasa. Ia merupakan simbol sakral masyarakat Adat Bayan yang penuh makna filosofis dan spiritual. Jong merujuk pada penutup kepala perempuan dan teknik mengenakan kain (memenjong) bagi laki-laki dalam ritual adat. Setiap helai kainnya—seperti Umbak Kombong, Kagungan, dan Bebo—ditenun oleh tangan-tangan terampil penenun terbaik melalui serangkaian ritual khusus, menjadikannya sebuah mahakarya yang tidak bisa diproduksi secara sembarangan.

“Menyadari hal itu, saya melihat perjuangan masyarakat Adat Bayan dalam memelihara dan melestarikan pakaian adat ini perlu mendapat apresiasi. Di dalam tradisi ini, tersembunyi identitas kearifan lokal serta potensi sumber daya ekonomi bagi pelaku UMKM dan pengrajin tenun,” papar Artadi.

Dari Pelestarian Budaya ke Penguatan Ekonomi Kerakyatan

Kunjungan langsung Artadi ke para pengrajin tenun mengungkap tantangan sekaligus peluang besar. Proses menenun yang rumit dan memakan waktu lama membutuhkan dukungan permodalan serta keberlanjutan pasar. Parade Jong Bayan diharapkan menjadi katalis untuk mengatasi hal tersebut.

“Pasar kain tenun Jong Bayan harus diperluas ke nasional dan mancanegara. Pelibatan masyarakat sebagai penenun perlu dirancang lebih masif, sehingga muncul kebanggaan bagi generasi muda untuk mempertahankan kelestarian komoditas lokal kita,” tegas Artadi.

Event ini dirancang untuk menjadi magnet wisatawan. Rencananya, parade akan diselenggarakan bersamaan dengan event besar lainnya seperti Gili Festival atau HUT Lombok Utara, dengan target partisipasi minimal 2.500 orang serta mencatatkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).

“Kita hadiahkan rekor ini kepada daerah dan masyarakat kita. Ini dalam rangka menarik perhatian para wisatawan yang bisa kita hadirkan ke KLU,” imbuhnya.

Dukungan Penuh Anggaran dan Komitmen Legislatif

Yang menjadi pondasi kuat dari usulan ini adalah jaminan dukungan anggaran dari DPRD KLU. Artadi dengan tegas menyatakan kesiapan Badan Anggaran (Banggar) DPRD untuk mendukung realisasi program tersebut.

“Kami di DPRD, khususnya Banggar, sangat mendukung berapa pun anggaran yang dipakai untuk kegiatan tersebut, asalkan dirancang dengan matang sebagai agenda daerah,” tutupnya dengan tegas.

Dorongan strategis dari Komisi II DPRD KLU ini menunjukkan visi pembangunan pariwisata yang berkelanjutan, tidak hanya mengejar kunjungan wisatawan, tetapi juga melestarikan warisan budaya, memberdayakan ekonomi masyarakat lokal, serta menempatkan Lombok Utara sebagai destinasi yang unik dan autentik di peta pariwisata dunia. Parade Jong Bayan 2026 diproyeksikan menjadi momen kebangkitan budaya yang bermuara pada kesejahteraan bersama.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *