DLH Lombok Utara Ingatkan Bahaya Air Bor Berlebihan, Warga Gili Diminta Jaga Keseimbangan

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com – Penggunaan air bor secara berlebihan di kawasan wisata Gili Trawangan kembali menjadi perhatian serius Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Utara. Pemerintah daerah mengingatkan bahwa eksploitasi air tanah tanpa pengendalian dapat memicu dampak lingkungan jangka panjang yang sulit dipulihkan, terutama di wilayah pulau kecil.

Kepala Bidang Penataan dan pentaatan Perlindungan serta Pengelolaan Lingkungan Hidup DLH Lombok Utara, Suhaili Budimansyah, menegaskan bahwa air bor bukanlah sumber daya yang bisa digunakan tanpa batas. Ia terus mengingatkan warga dan pelaku usaha agar bijak dan menjaga keseimbangan dalam pemanfaatannya.

banner 325x300

“Air tanah di pulau kecil seperti Gili sangat terbatas. Kalau diambil terus-menerus tanpa kendali, dampaknya bukan hari ini, tapi beberapa tahun ke depan, dan itu bisa permanen,” ujar Suhaili.

Menurutnya, salah satu risiko terbesar dari penggunaan air bor yang tidak terkontrol adalah intrusi air laut, di mana air asin masuk ke lapisan air tanah. Jika kondisi ini sudah terjadi, kualitas air akan menurun drastis dan sulit dikembalikan seperti semula, meskipun pengeboran dihentikan.

Suhaili menjelaskan bahwa selama ini air bor sering dianggap solusi praktis, terutama untuk menunjang aktivitas pariwisata. Namun tanpa kesadaran bersama, pemanfaatan tersebut justru dapat mengancam keberlanjutan lingkungan dan kenyamanan hidup masyarakat di Gili.

“Yang kami dorong adalah keseimbangan. Bukan melarang, tapi mengatur agar penggunaan air bor tidak berlebihan dan tidak merusak cadangan air tanah,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa kerusakan air tanah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi memicu persoalan sosial. Ketika air semakin langka, kelompok tertentu masih bisa mengakses air, sementara warga lain justru kesulitan, sehingga memunculkan ketimpangan.

DLH Lombok Utara, lanjut Suhaili, akan terus melakukan edukasi dan pengawasan agar pemanfaatan sumber daya air di kawasan Gili tetap berada dalam batas aman. Kesadaran kolektif dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan daya dukung lingkungan.

“Gili adalah aset bersama. Kalau lingkungannya rusak, semua akan terdampak. Karena itu kami berharap warga dan pelaku usaha ikut menjaga, bukan hanya memikirkan kebutuhan hari ini, tapi juga masa depan,” pungkasnya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *