Tanjungtv.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU), menjadi sorotan setelah 29 siswa dari dua sekolah dasar harus dilarikan ke Puskesmas Nipah, Rabu (11/2). Para siswa mengalami keluhan kesehatan usai menyantap makanan yang dibagikan.
Sebanyak 19 siswa berasal dari SDN 2 Malaka dan 10 siswa dari SDN 4 Malaka. Keluhan yang muncul bervariasi, mulai dari sakit perut, mual, hingga pusing. Meski tidak menimbulkan korban serius, insiden ini membuat pihak sekolah dan penyelenggara program melakukan evaluasi menyeluruh.
Guru sekaligus penanggung jawab MBG di SDN 2 Malaka, Wili, menyebut pihak sekolah mencurigai salah satu lauk dalam menu hari itu sudah tidak layak konsumsi. Ia mengaku mencium bau tak sedap dari ayam serta tumisan kentang dan wortel sebelum dibagikan kepada siswa.
“Begitu tercium bau yang tidak biasa, kami langsung menghentikan pembagian. Namun sebagian anak sudah terlanjur makan dan kemudian mengeluh sakit, sehingga kami bawa ke puskesmas,” ujarnya.
Wili menambahkan, siswa yang belum sempat mengonsumsi makanan tersebut tidak mengalami keluhan. Beberapa anak yang semula enggan mengaku akhirnya menyampaikan kondisi mual dan pusing setelah ditanya lebih lanjut. Menurutnya, dampak bisa muncul cepat atau lambat tergantung daya tahan tubuh masing-masing anak.
Ia juga mengungkapkan bahwa kejadian seperti ini merupakan yang pertama kali terjadi di sekolahnya, meski sebelumnya pernah ditemukan makanan yang mencurigakan dan langsung dicegah untuk dikonsumsi.
Di sisi lain, Kepala SPPG KLU Pemenang Malaka, Muhammad Izudin Nasrullah, menegaskan bahwa pihaknya telah menjalankan seluruh prosedur sesuai standar operasional (SOP). Setiap menu, katanya, selalu dicicipi terlebih dahulu di dapur sebelum dibagikan.
“Kami sudah sesuai SOP. Menu hari ini juga sudah dikonsumsi sebelumnya di dapur. Namun tetap akan kami evaluasi untuk memastikan di mana letak permasalahannya,” jelasnya.
Izudin menjelaskan bahan baku yang digunakan selalu dalam kondisi segar tanpa sistem stok. Proses memasak dimulai sejak pukul 00.30 WITA, pengemasan sekitar pukul 04.00 WITA, dan kemudian langsung didistribusikan ke sekolah-sekolah. Meski demikian, pihaknya siap menyesuaikan kembali waktu produksi sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN).
Petugas Gizi SPPG Malaka, Lia Husnaini, turut memastikan bahwa seluruh bahan dan proses telah melalui pemeriksaan ketat. Ia bahkan mengaku ikut mencicipi menu yang sama sebelum makanan diterima siswa.
“Semuanya sudah dicek dan tidak ada masalah. Saya sendiri makan menu itu. Karena itu kami masih menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui penyebab pasti,” katanya.
Koordinator Regional BGN NTB, Eko Prasetyo, menyampaikan bahwa penanganan terhadap para siswa menjadi prioritas utama. Seluruh korban, kata dia, telah mendapat perawatan dan dipulangkan ke rumah masing-masing.
“Total ada 29 orang dan semuanya sudah tertangani. Kejadian ini sudah kami laporkan ke pusat dan akan dievaluasi secara menyeluruh,” ungkapnya.
Sambil menunggu hasil uji laboratorium, operasional dapur MBG di wilayah tersebut dihentikan sementara. Langkah ini diambil untuk memastikan keamanan dan kelayakan makanan sebelum kembali disalurkan kepada para siswa.















