Tanjungtv.com, 9 Oktober 2024 – Tepat enam tahun yang lalu, gempa bumi dahsyat mengguncang Kabupaten Lombok Utara. Bencana ini menghancurkan tidak hanya bangunan fisik, tetapi juga psikologis masyarakat dan ekonomi lokal. Namun, dari kehancuran ini, lahirlah secercah harapan dalam bentuk sederhana: Kopi Samba. Sebuah produk yang tak hanya menyatukan rasa, tetapi juga jiwa, membawa masyarakat Lombok Utara bangkit perlahan dari keterpurukan.
Pada tanggal 9 Oktober 2018, inisiatif untuk mengolah Kopi Samba pertama kali digagas oleh para relawan yang tergabung dalam Sahabat Bangun Negeri Foundation dan Atap Solidaritas. Kedua kelompok ini bergerak cepat dalam membantu warga yang terdampak gempa, terutama di Desa Sambik Bangkol, Kecamatan Gangga. Bukan sekadar bantuan fisik, tetapi pendekatan yang lebih edukatif. Para relawan melihat potensi lokal yang tersimpan di desa ini—potensi yang sebelumnya mungkin terabaikan, namun mampu menjadi motor pemulihan ekonomi masyarakat setempat.
Menurut Masmunisri, pemilik UMKM Ecoprint Syajarat KLU, tujuan utama dari pengolahan Kopi Samba adalah untuk memberikan masyarakat Desa Sambik Bangkol, khususnya para korban gempa, jalan untuk bangkit kembali. “Tidak hanya secara psikologis, tetapi juga secara ekonomi, yang kala itu benar-benar lumpuh,” ungkapnya.
Penamaan Kopi Samba sendiri diambil dari singkatan Sambik Bangkol, desa tempat asal produk ini. Pengolahan biji kopi dilakukan dengan melibatkan ibu rumah tangga dan pemuda desa, sebagai upaya untuk membangkitkan keterlibatan komunitas dalam produksi lokal. Mulai dari proses pemilahan biji kopi (sortir) hingga pengemasan produk dilakukan dengan penuh ketelitian. Masmunisri menjelaskan bahwa hanya biji kopi berkualitas yang dipilih, biji-biji yang dipetik langsung dari dataran tinggi Dusun Bangun, yang berada di ketinggian seribu meter di atas permukaan laut.
Perjalanan Kopi Samba untuk dikenal masyarakat luas tak semudah memetik biji cherry merah dari pohonnya. Pada tahun 2019, produk ini mulai diperkenalkan di pasar yang lebih luas melalui Expo Santripreneur yang diadakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Inisiatif ini menjadi momentum penting bagi Kopi Samba untuk dikenal lebih jauh, melampaui batas wilayah Nusa Tenggara Barat.
Sejak saat itu, perbaikan terus dilakukan—bukan hanya pada kualitas biji kopi, tetapi juga dari segi kemasan yang lebih menarik dan siap bersaing dengan produk kopi lain dari berbagai daerah. Tantangan demi tantangan telah dihadapi, mulai dari mempertahankan cita rasa hingga menjaga konsistensi pasokan biji kopi yang berkualitas. “Perjuangan kami hingga saat ini tidaklah mudah, tetapi semangat untuk terus maju membangun usaha ini tak pernah pudar,” kata Masmunisri.
Citarasa Khas dan Peminat yang Semakin Meluas
Keistimewaan Kopi Samba terletak pada karakteristik rasanya yang khas, hasil dari biji cherry merah yang dipetik di dataran tinggi. Kualitas ini menjadikan Kopi Samba berbeda dari kopi lainnya, hingga menarik perhatian para pencinta kopi di seluruh Indonesia, bahkan dari mancanegara. Popularitasnya terus meningkat, dan puncaknya terlihat ketika kopi ini menjadi salah satu minuman favorit di event MotoGP Mandalika yang diselenggarakan setiap tahun.
“Paling laris itu minuman dingin dan Kopi Samba,” ujar Masmunisri dengan bangga. Para penonton yang datang dari berbagai penjuru dunia tak bisa melewatkan kesempatan untuk mencicipi kopi khas dari Gangga ini, sebuah kopi yang membawa cerita tentang perjuangan, ketangguhan, dan kebangkitan dari bencana.
Masa Depan Kopi Samba Menuju Pasar Internasional
Seiring berjalannya waktu, produk Kopi Samba semakin menunjukkan potensi besar untuk menembus pasar internasional. Dengan kualitas yang terus ditingkatkan dan strategi pemasaran yang lebih agresif, Kopi Samba siap bersaing dengan produk kopi dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dunia. Di balik cita rasanya yang menggugah, Kopi Samba membawa pesan penting: tentang bagaimana masyarakat Lombok Utara berhasil bangkit dari puing-puing kehancuran pasca-gempa dan menciptakan sebuah produk unggulan yang mampu mengubah nasib ekonomi mereka.
Untuk masa depan, Masmunisri dan timnya berencana untuk meningkatkan skala produksi dan memperluas jaringan distribusi ke berbagai kota besar di Indonesia. Mereka juga tengah berusaha untuk menembus pasar luar negeri dengan memperkenalkan Kopi Samba dalam berbagai pameran internasional. Dukungan dari pemerintah dan lembaga terkait tentu sangat dibutuhkan untuk mewujudkan impian ini.
“Kami yakin, dengan kerja keras dan dukungan semua pihak, Kopi Samba bisa menjadi produk kopi unggulan yang membawa nama Lombok Utara semakin dikenal,” kata Masmunisri penuh harap.
Kopi Samba bukan hanya sekadar produk kopi. Ia adalah simbol ketangguhan masyarakat Sambik Bangkol, simbol bagaimana sebuah komunitas yang pernah hancur oleh gempa kini mampu berdiri tegak dan bangkit melalui potensi lokal yang ada. Ini adalah cerita tentang harapan, tentang bagaimana sebuah inisiatif kecil mampu membawa perubahan besar.
Dari ketinggian pegunungan Dusun Bangun, aroma biji kopi cherry merah yang dipetik oleh tangan-tangan ibu rumah tangga dan pemuda setempat terus menyebar. Seiring berjalannya waktu, cita rasa khas Kopi Samba akan terus menarik lebih banyak penikmat kopi, baik lokal maupun internasional.
Inilah Kopi Samba, kopi yang bukan hanya menghadirkan kenikmatan dalam setiap tegukan, tetapi juga menyimpan kisah perjuangan dan kebangkitan sebuah komunitas dari duka gempa menjadi harapan masa depan yang lebih cerah.















