Tanjungtv.com – Bangunan Trigona Park yang terletak di Desa Bengkaung, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, kini menyisakan pertanyaan besar bagi masyarakat. Proyek yang awalnya dirancang dengan tujuan mempromosikan potensi lokal melalui ekowisata dan budidaya lebah trigona ini, kini terbengkalai dan tak termanfaatkan sesuai rencana awal. Setelah menelan anggaran sebesar Rp 1 miliar, bangunan tersebut terlihat sepi dan hanya berfungsi sebagai sekretariat Pokdarwis, PPS, Bumdes, serta karang taruna setempat.
Pantauan langsung di lapangan menunjukkan kondisi yang jauh dari harapan. Beberapa bangunan terlihat kosong dan tidak difungsikan dengan maksimal. Gazebo-gazebo yang dibangun untuk menunjang fasilitas wisata terlihat sunyi, tanpa ada aktivitas berarti. Hanya tulisan di dinding kaca yang menandai bangunan itu sebagai proyek ambisius, yang kini bak monumen kosong di puncak tanjakan curam.
Harapan Baru atau Hanya Angan?
Imamul Azkar, pengurus Pokdarwis Desa Bengkaung, mengakui kondisi tersebut. Namun, ia juga menambahkan bahwa pihaknya bersama Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan Pemerintah Desa (Pemdes) berupaya untuk menghidupkan kembali Trigona Park. Salah satu rencana yang saat ini tengah disiapkan adalah menjadikan lokasi tersebut sebagai pusat kuliner lokal. “Kami diajak pemdes studi tour ke Pasar Bambu di Bonjeruk, dan rencananya kami akan membuka kuliner di Trigona Park. Ini sedang kami siapkan,” ujar Imamul.
Meski begitu, pertanyaan besar tetap menggantung di benak masyarakat: Apakah rencana ini benar-benar akan terealisasi atau hanya sekadar wacana seperti proyek-proyek lain yang berujung pada ketidakpastian? Selama ini, banyak proyek di Lombok Barat yang dimulai dengan semangat besar namun akhirnya terhenti di tengah jalan karena berbagai kendala, baik teknis maupun finansial.
Pengelolaan Terbentur Kendala SDM
Salah satu tantangan utama dalam merealisasikan rencana ini adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten. Imamul mengakui bahwa untuk mengoperasikan pusat kuliner tersebut, pihaknya membutuhkan tenaga ahli dan pelaku usaha kuliner yang siap untuk berinvestasi dan berjualan di lokasi. “Kami perlu SDM yang disiapkan. Hal ini masih dalam tahap kajian bersama desa dan unsur terkait,” ungkapnya.
Tak hanya itu, anggaran untuk membuka pusat kuliner juga masih menjadi masalah. Hingga kini, belum ada keputusan final mengenai alokasi dana untuk pengelolaan Trigona Park ke depannya. “Kami masih menunggu hasil keputusan rapat desa terkait anggaran,” tambah Imamul.
Potensi yang Belum Tersentuh
Trigona Park sebenarnya memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata unik di Lombok Barat. Lokasinya yang berada di ketinggian menawarkan pemandangan yang indah dan sejuk, cocok untuk menarik wisatawan yang mencari pengalaman ekowisata. Selain itu, budidaya lebah trigona yang dikenal menghasilkan madu berkualitas tinggi bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Namun, tanpa pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan, potensi ini hanya akan menjadi mimpi kosong.
Warga sekitar berharap Trigona Park tidak sekadar menjadi bangunan mati di tengah perbukitan. Mereka menginginkan pemerintah desa dan pelaku usaha serius dalam mengembangkan kawasan ini, sehingga bisa memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat.
Keterlibatan Pemerintah Daerah
Dispar Lombok Barat sebagai pemangku kebijakan juga diharapkan bisa memberikan solusi konkret terkait pengelolaan Trigona Park. Apalagi, anggaran yang telah dikucurkan cukup besar, dan masyarakat tentunya berhak melihat manfaat dari investasi tersebut. Pemerintah Kabupaten Lombok Barat perlu turun tangan lebih serius untuk mencegah proyek ini menjadi catatan buruk dalam pengembangan pariwisata di daerah tersebut.
Kesimpulan: Sebuah Ujian untuk Kolaborasi Desa
Trigona Park Bengkaung bukan hanya soal revitalisasi bangunan yang terbengkalai, tetapi juga soal bagaimana kolaborasi antara desa, masyarakat, dan pemerintah daerah mampu menghidupkan potensi lokal. Apakah tempat ini akan benar-benar berubah menjadi pusat kuliner yang ramai dan menguntungkan? Atau, justru akan kembali menjadi proyek yang terhenti di tengah jalan? Semua ini tergantung pada keseriusan pihak terkait dalam merealisasikan janji-janji yang telah dilontarkan.
Masyarakat menunggu dengan penuh harap, semoga rencana ini tidak berakhir sebagai sekadar angan. Trigona Park masih memiliki peluang untuk menjadi ikon wisata kuliner dan ekowisata, asal dikelola dengan baik dan serius.















