Tanjungtv.com – Budidaya melon semakin diminati oleh para petani di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya di Desa Kateng, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah. Hal ini disebabkan oleh potensi omzet yang bisa mencapai puluhan juta rupiah per sekali panen. Salah satu petani sukses yang menggeluti budidaya melon adalah Junaedi, yang mampu meraup omzet hingga Rp 45 juta dari hasil tanamannya.
Melon yang dikembangkan oleh Junaedi adalah jenis Appolo Golden, yang telah menjadi primadona di kalangan petani sejak beberapa tahun terakhir. Menurut Junaedi, budidaya melon dijadikan alternatif selain menanam padi, terutama di musim kemarau saat ini. “Musim kemarau seperti ini bagus untuk melon, karena melon suka yang kering,” ungkapnya saat diwawancarai.
Dengan lahan seluas 25 are, Junaedi mampu menghasilkan tiga ton melon setiap kali panen. Proses panen dilakukan secara bertahap sesuai dengan kematangan buah, di mana buah yang sudah siap langsung dipetik, sementara yang belum dibiarkan hingga matang sempurna. “Ketika ada yang waktunya panen, kita panen. Yang belum siap, dibiarkan hingga matang,” jelas Junaedi.
Harga jual melon jenis Appolo Golden yang dibudidayakannya mencapai Rp 18 ribu per kilogram. Dengan kapasitas produksi tersebut, ia bisa menghasilkan omzet hingga Rp 45 juta dari satu kali panen. Tidak hanya dipasarkan di NTB, Junaedi juga mengirimkan hasil budidayanya ke Bali. Baru-baru ini, ia mengirim 250 kilogram melon ke Pulau Dewata.
Selain menghasilkan keuntungan besar, Junaedi juga menawarkan sensasi berbeda bagi warga sekitar yang ingin langsung memetik melon di lahannya. Sejak memulai budidaya melon pada tahun 2017, Junaedi merasakan banyak manfaat ekonomi dibandingkan tanaman lainnya. “Kami lebih untung dari tanaman lain, meski perawatannya cukup sensitif. Tapi saya sudah berpengalaman,” ungkapnya bangga.
Komoditas melon memang menjadi pilihan yang menjanjikan di wilayah ini, terutama dengan kondisi iklim dan cuaca yang mendukung. Para petani di Desa Kateng semakin tertarik untuk mengembangkan budidaya melon sebagai salah satu cara meningkatkan pendapatan mereka di musim kemarau. Budidaya ini telah menjadi solusi bagi banyak petani yang sebelumnya hanya mengandalkan tanaman padi.
Keberhasilan Junaedi dalam mengembangkan budidaya melon jenis Appolo Golden juga memberikan inspirasi bagi petani lain di Lombok Tengah. Di tengah tantangan perawatan yang cukup intensif, budidaya melon terbukti mampu memberikan keuntungan besar jika dilakukan dengan baik. Seiring dengan meningkatnya minat pasar terhadap melon berkualitas, budidaya ini pun menjadi salah satu andalan baru bagi petani lokal.
Selain dari sisi finansial, budidaya melon juga memberikan kesempatan bagi petani untuk membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk pasar di luar NTB. Dengan adanya kerjasama distribusi hingga ke Bali, petani melon di Desa Kateng kini memiliki kesempatan untuk menjangkau lebih banyak konsumen dan meningkatkan skala produksi mereka.
Junaedi berharap bahwa pemerintah daerah dapat terus mendukung para petani melalui penyediaan infrastruktur yang dibutuhkan. Dengan potensi besar yang dimiliki oleh budidaya melon, NTB diharapkan dapat menjadi salah satu sentra produksi melon berkualitas di Indonesia.
“Semoga ke depan, kita bisa mendapat dukungan lebih banyak untuk pengembangan melon ini, karena hasilnya benar-benar menjanjikan,” tutup Junaedi optimis.















