Tanjungtv.com – Masyarakat Aik Dewa, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, kembali meriahkan gawe desa tahunan mereka yang ke-4 pada tahun ini. Namun, kali ini ada yang berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya—budaya Poposan yang menjadi daya tarik utama. Budaya sunatan massal ini digelar di atas gazebo setinggi 5 meter, sebuah tradisi unik yang dipercaya mampu meningkatkan keberanian dan mental anak yang akan disunat.
Suara gendang beleq dari dua kelompok kesenian mengiringi prosesi adat sepanjang jalan Desa Aik Dewa. Ibu-ibu membawa dulang berisi makanan menuju lokasi ritual yang diadakan di mata air Kokok Gondang, sebuah mata air suci yang diyakini tidak pernah kering sepanjang tahun, meski di musim kemarau. Ritual ini dikenal dengan Ngalun Aik atau merayu air, yang bertujuan agar debit air tetap melimpah dan mengalir sepanjang tahun untuk kebutuhan masyarakat.
Tahun ini, selain Ngalun Aik, acara budaya Poposan menjadi pembeda yang menarik perhatian. Tradisi Poposan ini dilakukan dengan mendirikan sebuah gazebo setinggi 5 meter dengan ukuran 2×2 meter persegi, tempat anak-anak menjalani prosesi sunatan. “Poposan ini merupakan tradisi sunatan yang diwariskan oleh nenek moyang, di mana sunatan dilakukan di atas struktur dengan tujuh anak tangga. Sebelum sunatan, ada serangkaian ritual adat yang harus dijalani,” ujar Marzuki, ketua panitia gawe desa.
Prosesi sunatan di atas Poposan dipercaya dapat membentuk anak yang berani dan tangguh menghadapi kerasnya kehidupan. Setelah prosesi Ngalun Aik selesai, air suci yang telah diberkati dalam ritual tersebut digunakan untuk memandikan anak-anak yang akan disunat, diyakini dapat melindungi mereka dari penyakit dan memberikan keberanian.
Sebelum prosesi sunatan dimulai, pemangku adat menyucikan Poposan dengan memercikkan air suci untuk mengusir roh jahat yang mungkin mengganggu jalannya upacara. Setelah semua ritual selesai, dokter dan anak yang akan disunat menaiki Poposan dengan iringan tabuhan gendang beleq. Setelah sunatan, prosesi dilanjutkan dengan penyembelihan ayam jantan, yang kemudian dimakan oleh anak yang telah disunat sebagai simbol keberanian.
“Ritual Ngalun Aik ini adalah inti dari semua kegiatan budaya ini. Air yang diambil dari mata air Kokok Gondang dipercaya memiliki kekuatan suci dan digunakan untuk berbagai keperluan masyarakat,” jelas Marzuki. Ritual ini diambil dari legenda Putri Gondang, yang menurut cerita rakyat memiliki selendang ajaib yang bisa meningkatkan debit air saat digunakan.
Legenda Putri Gondang yang konon memiliki kemampuan untuk menenun di atas bambu dan memegang selendang keramat yang disebut selebung aik, menjadi bagian penting dalam kepercayaan masyarakat Aik Dewa. Selendang ini dikisahkan mampu memanggil hujan dan memperbesar aliran air di sungai. “Selendang asli Putri Gondang masih disimpan oleh tokoh adat, namun dalam ritual ini kita menggunakan duplikat selendang tersebut dengan harapan agar debit air semakin melimpah,” tambahnya.
Masyarakat berharap agar tradisi ini terus dilestarikan dan menjadi cara untuk memperkenalkan budaya dan kearifan lokal Aik Dewa ke dunia luar. Ritual Ngalun Aik dan Poposan tidak hanya sebagai sarana spiritual, tetapi juga menjadi simbol kuat hubungan antara manusia dan alam dalam menjaga keseimbangan ekosistem.















