Tanjungtv.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB menggencarkan langkah strategis dalam upaya melestarikan kekayaan budaya melalui kegiatan registrasi cagar budaya di wilayah Bumi Gora. Kegiatan yang digelar pada Rabu (23/10) di Hotel Grand Madani ini dihadiri oleh berbagai pihak penting, termasuk Kepala Dinas Dikbud NTB, H. Aidy Furqan, H. Rosyadi Sayuti dari Badan Riset Universitas Mataram, dan Dewan Pendidikan NTB Lalu Agus Faturrahman.
Dalam pidatonya, H. Aidy Furqan menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai upaya konkret untuk mendata dan mencatat cagar budaya yang ada di seluruh NTB. “Pertemuan ini digelar untuk mendata cagar budaya yang ada di NTB,” ujar Aidy Furqan. Kegiatan registrasi tersebut mencakup pengumpulan data dan penetapan status cagar budaya yang berhak mendapatkan perlindungan hukum.
Lebih jauh, Aidy Furqan menjelaskan bahwa registrasi ini melibatkan masyarakat, akademisi, dan pemerintah daerah untuk memastikan situs-situs bersejarah yang memiliki nilai penting dapat dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang. Ia menambahkan bahwa pelestarian cagar budaya ini tak hanya penting bagi sejarah, namun juga untuk menarik perhatian wisatawan dan mendorong pengembangan ekonomi daerah.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Dikbud NTB, Lalu Abdurrahim, turut memberikan pemaparan mengenai proses registrasi yang mencakup pengumpulan data yang teliti dan penetapan status hukum untuk setiap cagar budaya yang telah diidentifikasi. Ia menyoroti beberapa cagar budaya penting di NTB, seperti Kemaliq Lingsar, Kota Tua Ampenan, situs purbakala di Gunungsari, dan Desa Sade yang menggambarkan kehidupan masyarakat Sasak.
Salah satu situs yang kini menjadi sorotan adalah Kemaliq Lingsar, sebuah tempat sakral bagi masyarakat Sasak di masa lalu untuk bermeditasi dan mencurahkan rasa. Tidak hanya itu, situs purbakala Pujut di Lombok Tengah juga masuk dalam daftar registrasi. Situs ini menyimpan peninggalan penting yang sangat berharga bagi pemahaman budaya Lombok.
Kegiatan registrasi ini tak hanya berfokus pada pencatatan dan pengumpulan data, tetapi juga melibatkan pelatihan bagi para pengelola situs dan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman mereka mengenai teknik pemeliharaan dan pengelolaan situs-situs bersejarah. “Melalui pelatihan ini, kami berharap masyarakat lebih aktif dalam menjaga cagar budaya dan mampu menarik wisatawan untuk menikmati kekayaan budaya NTB,” ujar Lalu Abdurrahim.
H. Azis, salah satu Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi NTB, turut menyampaikan antusiasmenya dalam mendukung program ini. Ia menekankan bahwa registrasi dan pengelolaan cagar budaya di NTB harus dilakukan secara berkesinambungan agar generasi mendatang dapat merasakan manfaatnya. “Cagar budaya ini mencerminkan kekayaan sejarah dan budaya NTB yang harus dilestarikan supaya generasi penerus bisa memahami kekayaan budaya di Bumi Gora,” pungkasnya.
Dengan upaya yang terus digalakkan oleh Dikbud NTB, diharapkan situs-situs bersejarah yang memiliki nilai penting ini akan mendapatkan perlindungan yang layak dan menjadi daya tarik baru bagi wisatawan yang ingin menikmati kekayaan sejarah dan budaya NTB. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan berbagai lembaga dan masyarakat demi keberhasilan program pelestarian cagar budaya di Bumi Gora.















