Kemarau Parah Ancam Ketersediaan Air, PDAM Tiara Lombok Tengah Terpaksa Terapkan Sistem Bergilir.

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com – Musim kemarau yang berkepanjangan tahun ini telah memberikan dampak signifikan terhadap distribusi air yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tiara Lombok Tengah. Situasi ini menjadi semakin serius ketika debit air yang biasanya mencapai 890 liter per detik menyusut drastis menjadi hanya 522 liter per detik. Hal ini berdampak pada distribusi air ke wilayah-wilayah yang menjadi pelanggan PDAM, sehingga sistem pendistribusian bergilir harus tetap diterapkan untuk mengatasi kekurangan.

Direktur Operasional PDAM Tiara Lombok Tengah, Lalu Sukemi Adiantara, mengungkapkan bahwa kebutuhan normal distribusi air mencapai 680 liter per detik. Namun, akibat kemarau, debit air yang didapatkan dari sumber-sumber utama menyusut drastis, hanya tersisa 368 liter per detik. “Artinya, dalam kondisi normal, kami mampu mendistribusikan air lebih dari yang diperlukan. Namun, kemarau ini benar-benar menurunkan debit air secara drastis,” ungkap Sukemi pada Kamis (24/10).

banner 325x300

Dampak Terus Berlanjut, Hujan Tak Membawa Perubahan
Meski dalam beberapa hari terakhir telah turun hujan di beberapa wilayah, penurunan debit air belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Menurut Sukemi, intensitas hujan yang turun masih rendah dan hanya mampu membasahi permukaan tanah, tanpa memberikan dampak yang signifikan terhadap sumber-sumber mata air PDAM. Hal ini menyebabkan kekurangan air di sejumlah daerah masih belum teratasi.

“Sistem bergilir masih harus diberlakukan di beberapa wilayah. Seperti di Praya Tengah, Praya Timur, Pujut, dan sekitarnya. Meski sudah ada sedikit hujan, debit air tetap rendah,” tambah Sukemi.

Sementara itu, wilayah Praya sendiri mengalami gangguan yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan wilayah lain. Sukemi menegaskan bahwa sistem bergilir ini akan terus diterapkan di daerah-daerah yang terkena dampak besar dari kemarau untuk memastikan semua pelanggan tetap mendapatkan pasokan air, meskipun dengan jumlah terbatas.

Sumber Baru dalam Pemetaan, Harapan di Tengah Krisis
Untuk mengatasi permasalahan ini ke depannya, PDAM telah merencanakan langkah-langkah strategis dengan memetakan sumber-sumber mata air baru. Meski demikian, Sukemi menyatakan bahwa belum ada informasi detail yang dapat diungkapkan mengenai lokasi-lokasi tersebut. “Memang sudah ada sumber baru, tapi kami harus melakukan pendekatan kepada masyarakat terlebih dahulu agar tidak menimbulkan gejolak di kemudian hari,” jelasnya.

Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi jangka panjang, mengingat krisis air akibat kemarau bukanlah hal baru bagi Lombok Tengah. Setiap tahun, ketika musim kemarau tiba, permasalahan ini selalu muncul, dan tanpa adanya solusi permanen, ancaman terhadap ketersediaan air akan terus menghantui masyarakat.

Hujan Tak Langsung Normalisasi Debit Air
Sukemi juga menambahkan bahwa meskipun prediksi menyebutkan hujan akan terus turun hingga akhir Oktober, tidak ada jaminan bahwa debit air akan kembali normal dengan cepat. “Turunnya hujan belum tentu langsung mengembalikan debit air seperti semula. Intensitasnya masih rendah, jadi butuh waktu sampai benar-benar mempengaruhi sumber air,” tandasnya.

Situasi ini tentu menjadi tantangan besar bagi PDAM dan masyarakat Lombok Tengah. Di tengah kemarau yang tak kunjung usai, harapan kini tertumpu pada pemetaan sumber air baru yang diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang. Masyarakat hanya bisa berharap agar musim hujan yang lebih deras segera datang dan membawa angin segar bagi krisis air ini.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *