PEKAN SENI BUDAYA KLU, PANGGUNG PERLAWANAN ANAK MUDA TERHADAP INVASI TEKNOLOGI MODERN

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com – Lapangan Tanjung menjadi saksi bisu kebangkitan budaya lokal yang melawan derasnya arus digitalisasi. Pekan Seni Budaya yang digelar oleh Sanggar Seni Budaya Kabupaten Lombok Utara (KLU) pada Senin malam (10/2) bukan sekadar pertunjukan, melainkan pernyataan sikap bahwa adat dan tradisi tak boleh tunduk di hadapan teknologi modern.

BACA JUGA : Imbas Persetruan Dengan wanita kayangan Mantan, Bupati Loteng Dihantui Panggilan Hukum, Penyelidikan Memanas!

banner 325x300

Bupati KLU Djohan Sjamsu yang hadir dalam pembukaan acara menegaskan bahwa perkembangan teknologi yang semakin pesat telah menggerus banyak nilai-nilai budaya, khususnya di kalangan anak muda. Ia menyerukan bahwa tradisi harus tetap menjadi identitas, bukan sekadar sejarah yang dilupakan.

Keyakinan itu diperkuat dengan keberagaman adat dan budaya di KLU yang, menurut Djohan, harus tetap dijaga sebagai warisan yang tidak boleh luntur meski zaman berubah. Ia menegaskan bahwa acara seperti ini adalah benteng pertahanan terakhir bagi budaya lokal agar tidak terkikis oleh derasnya informasi global.

Ketua Panitia Pekan Seni Budaya, Sukmarani Hima Dila, menyatakan bahwa kegiatan ini telah menjadi agenda tahunan yang tidak hanya menghidupkan seni dan budaya, tetapi juga menjadi ajang edukasi bagi generasi muda. Selama sepekan, berbagai pertunjukan seni, diskusi budaya, dan workshop diadakan untuk memberikan pemahaman bahwa tradisi bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari jati diri yang harus terus dilestarikan.

Panggung utama menjadi arena di mana budaya lokal kembali menemukan suaranya. Dari tari-tarian adat, peresean yang membakar semangat, hingga lomba gangsing yang membawa nostalgia ke akar budaya Sasak. Festival kuliner pun menjadi daya tarik tersendiri, mengingatkan bahwa makanan tradisional bukan hanya soal rasa, tetapi juga bagian dari identitas yang harus terus dirawat.

Workshop membatik yang melibatkan 100 pelajar dari SMA dan SMK se-KLU juga menjadi momen penting. Di tengah maraknya industri tekstil modern, membatik secara manual menjadi simbol perlawanan terhadap serbuan produk instan. Para peserta tidak hanya belajar teknik, tetapi juga memahami filosofi di balik setiap motif yang dibuat.

Acara ini juga memberikan angin segar bagi pelaku UMKM. Ribuan pengunjung yang datang membuka peluang besar bagi pedagang lokal untuk memperkenalkan produk-produk tradisional mereka. Lebih dari sekadar hiburan, Pekan Seni Budaya KLU membuktikan bahwa budaya bukanlah peninggalan masa lalu, melainkan kekuatan yang mampu menghadapi tantangan zaman.

Di tengah dunia yang semakin bergantung pada teknologi, Pekan Seni Budaya KLU bukan sekadar perayaan, tetapi pesan lantang bahwa generasi muda masih memiliki keberanian untuk berdiri di atas akar budayanya sendiri.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *