Tanjungtv.com – Auliya (23) memutuskan untuk melawan arus besar kapitalisme dengan langkah kecil yang mengubah hidupnya. Di tengah desakan ekonomi yang menuntut kecepatan dan konsumsi tanpa henti, ia justru memilih jalan berbeda. Alih-alih terjebak dalam pusaran kerja tanpa henti demi mengejar status sosial, ia memilih memperlambat ritme hidupnya.
BACA JUGA : JUAL MAHAL! TERUMBU KARANG GILI MATRA DIASURANSIKAN, SIAPA YANG BAYAR?
Setiap pagi sebelum berangkat kerja, ia tidak sibuk mengecek email atau mengutak-atik media sosial untuk mengisi celah waktu. Sebaliknya, ia menikmati secangkir kopi dengan tenang, mengamati embun yang menguap dari daun, dan membiarkan pikirannya beristirahat sebelum menghadapi dunia yang penuh hiruk-pikuk. “Saya lebih memilih untuk menikmati momen ketimbang terburu-buru mengejar sesuatu yang tidak pasti,” ujarnya.
Konsep slow living yang ia jalani bukan sekadar tren yang datang dan pergi. Bagi Auliya, ini adalah bentuk perlawanan terhadap budaya hidup yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tanpa mempertimbangkan kebahagiaan pribadi. Ia tidak tergiur oleh ajakan konsumsi berlebihan, tidak merasa perlu membeli barang hanya demi gengsi, dan menolak tekanan untuk selalu terlihat produktif.
Fenomena ini bukan hanya dilakukan Auliya seorang. Puput, pekerja kantoran di Jakarta, juga memilih jalan yang sama. Ia mulai menyederhanakan hidupnya dengan menekan keinginan impulsif untuk belanja, mengalokasikan lebih banyak waktu bersama keluarga, dan mengganti kelelahan mental dengan ketenangan batin. “Dulu saya merasa harus selalu membeli sesuatu untuk merasa bahagia. Sekarang saya menyadari bahwa kebahagiaan tidak ada hubungannya dengan harga barang,” ungkapnya.
Di tengah tekanan hidup di kota besar, gaya hidup slow living perlahan menjadi bentuk protes diam-diam. Ini bukan sekadar keputusan individu, tetapi simbol perubahan cara berpikir generasi muda terhadap kebahagiaan dan makna hidup.
Menurut Dwi Raihan, peneliti dari Next Policy, tren slow living tidak muncul begitu saja. Ini adalah respons terhadap ketidakpastian ekonomi, ketimpangan sosial, dan tekanan kapitalisme yang mendorong individu untuk terus bekerja tanpa henti. “Jakarta adalah kota yang menuntut kecepatan. Tapi ironisnya, banyak yang akhirnya kehilangan makna hidup karena hanya berlari tanpa arah,” jelasnya.
Dengan menjalani hidup yang lebih sederhana, kelompok ini justru menemukan sesuatu yang lebih berharga dari uang: ketenangan jiwa. Mereka tidak lagi dikejar rasa cemas karena tuntutan membeli sesuatu yang tidak benar-benar mereka butuhkan. Mereka tidak lagi dihantui oleh gaya hidup yang hanya menjadikan mereka alat produksi semata.
Namun, gerakan ini bukannya tanpa tantangan. Dalam masyarakat yang mengukur keberhasilan dari seberapa sibuk dan seberapa besar penghasilan seseorang, memilih hidup lebih lambat sering kali dipandang sebagai kemunduran. Tapi bagi mereka yang telah merasakannya, slow living bukan sekadar gaya hidup, melainkan kunci untuk menemukan kembali diri sendiri.















