Tanjungtv.com – Gili Trawangan bukan lagi sekadar ikon wisata NTB, melainkan medan pertempuran antara eksploitasi dan keberlanjutan. Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal akhirnya mengambil langkah besar untuk menata ulang kawasan ini. Dengan visi sustainable tourism, penataan ini bukan sekadar kosmetik, melainkan perubahan mendasar yang akan mengubah wajah Gili Trawangan dalam beberapa dekade ke depan.
Pemerintah Provinsi NTB telah menggelar audiensi dengan para pemilik usaha, masyarakat setempat, dan pemangku kepentingan lainnya. Masterplan jangka panjang sedang dirancang, bukan hanya untuk mengatur arus wisatawan tetapi juga untuk memastikan kelangsungan ekosistem yang selama ini tergerus oleh perkembangan tak terkendali. Gubernur Iqbal menegaskan bahwa tanpa perombakan total, Gili Trawangan hanya tinggal menunggu waktu sebelum kehilangan daya tariknya sebagai destinasi kelas dunia.
BACA JUGA : KASUS TES LOMBOK UTARA TAK BERBUKTI, APRIALELY NIRMALA SIAP TEMPUR DI MEJA HUKUM
Manajer Pendidikan dan Kebudayaan Geopark Rinjani, Fathul Rahman, memperingatkan bahwa tanpa perbaikan tata kelola, status Taman Nasional Gunung Rinjani sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark bisa terancam. Revalidasi oleh UNESCO tidak bisa dianggap sepele, dan pemerintah harus menunjukkan komitmen nyata dalam mengelola Gili Tramena (Trawangan, Meno, dan Air) sebagai bagian dari ekosistem yang lebih besar.
Dari pantauan di lapangan, kondisi Gili Trawangan memang jauh dari kata ideal. Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang menyebut pengelolaan kawasan ini sudah di ambang kekacauan. Sampah menumpuk, limbah mencemari perairan, bangunan berdiri tanpa regulasi yang jelas, dan jumlah wisatawan melebihi daya dukung lingkungan. Jika terus dibiarkan, daya tarik Gili Trawangan sebagai surga tropis akan berubah menjadi bencana ekologi.
Tidak semua pihak menyambut baik rencana ini. Sebagian pengusaha khawatir perubahan drastis akan mengganggu kelangsungan bisnis mereka. Namun, pemerintah tak gentar. Gubernur Iqbal memastikan bahwa proses ini akan dijalankan dengan tegas dan bertahap, tanpa kompromi terhadap kepentingan jangka panjang. Bahkan, opsi pembatasan jumlah wisatawan mulai dipertimbangkan agar kawasan ini tidak semakin terbebani oleh eksploitasi massal.
Langkah konkret berikutnya adalah menetapkan regulasi baru yang lebih ketat. Gili Trawangan akan diarahkan menjadi destinasi wisata eksklusif, di mana wisatawan yang datang bukan sekadar mencari hiburan murah, melainkan mereka yang benar-benar peduli terhadap kelestarian alam. Konsep ini telah berhasil diterapkan di berbagai destinasi elite dunia, dan NTB bersiap untuk menerapkan strategi serupa.
Perubahan ini bukan sekadar rencana di atas kertas. Dalam waktu dekat, Gubernur NTB akan mengeluarkan surat pernyataan resmi sebagai bentuk komitmen pemerintah untuk menata ulang kawasan ini. Jika semua berjalan sesuai rencana, Gili Trawangan akan mengalami transformasi terbesar dalam sejarahnya. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perubahan ini akan terjadi, melainkan seberapa cepat eksekusi bisa dilakukan sebelum semuanya terlambat.















