Tanjungtv.com – Pemerintah dan pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sedang mempertimbangkan penambahan kuota pendakian setelah mendapat desakan dari berbagai pihak, termasuk asosiasi trekking organizer. Langkah ini diharapkan bisa memenuhi tingginya minat wisatawan tanpa mengorbankan kelestarian alam.
Dosen Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Pascasarjana Universitas Mataram (Unram), Prof. Markum, menyatakan bahwa kebijakan pembatasan kuota selama ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, ia juga membuka peluang peningkatan kuota jika didukung oleh penambahan sarana dan prasarana.
BACA JUGA : Askab PSSI Lombok Utara Gelar Tiga Open Turnamen Sekaligus, Cetak Bintang Masa Depan Sepak Bola Daerah
“Jika pembatasan selama ini didasarkan pada rasio pengunjung dan fasilitas yang ada, seperti toilet, pos pendakian, atau tenaga pengelola, maka penambahan kuota masih mungkin dilakukan asalkan diimbangi dengan peningkatan infrastruktur,” jelasnya.
Prof. Markum menekankan bahwa TNGR bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga kawasan konservasi dan tempat sakral bagi masyarakat lokal. “Kita harus memastikan bahwa setiap kebijakan tidak merusak ekologi, budaya, dan spiritualitas yang melekat pada Rinjani,” ujarnya.
Kepala Balai TNGR, Yarman, mengonfirmasi bahwa pihaknya sedang melakukan kajian mendalam terkait usulan penambahan kuota. “Kami akan mengevaluasi ketersediaan air, lokasi camping, serta kapasitas jalur pendakian sebelum memutuskan,” katanya.
Gunung Rinjani merupakan salah satu gunung terindah di Indonesia, terkenal dengan Danau Segara Anak yang dianggap suci oleh masyarakat Hindu Bali dan Sasak. Kawasan ini juga menyimpan legenda Dewi Anjani, yang memperkaya nilai budaya dan spiritualnya.
Jika kebijakan ini disetujui, Rinjani akan menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata berkelanjutan bisa berjalan seiring dengan pelestarian alam. “Dengan kolaborasi semua pihak, kita bisa menjaga Rinjani tetap lestari sekaligus memberi kesempatan lebih banyak orang untuk menikmati keindahannya,” pungkas Prof. Markum.
Peningkatan kuota pendakian ini diprediksi akan menjadi angin segar bagi industri pariwisata Lombok, sekaligus tantangan besar bagi pengelola TNGR untuk memastikan semua aturan konservasi tetap dipatuhi.















