Tanjungtv.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengambil langkah revolusioner dalam tata kelola pengiriman sapi ke Jabodetabek. Setelah mengevaluasi sistem lama, Pemprov NTB kini menyiapkan perubahan besar-besaran untuk memastikan distribusi lebih lancar, transparan, dan menguntungkan peternak lokal.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB, Muhammad Riadi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima berbagai masukan dari kementerian dan pelaku usaha. Salah satu inovasi terbaru adalah kewajiban mencantumkan tanggal keberangkatan dan nama kapal pengangkut dalam surat rekomendasi. “Sapi-sapi ini harus punya kepastian. Tanggal berangkat dan kapalnya harus jelas, seperti tiket penyeberangan,” tegas Riadi.
BACA JUGA : Kejari Mataram Ungkap Skema Korupsi Bansos Rp6 Miliar, Saksi Kunci hingga Langkah Penyelamatan Uang Negara
Pasca-Lebaran, Disnakkeswan NTB telah mengeluarkan rekomendasi pengiriman 8.709 ekor sapi ke Jabodetabek. Hingga saat ini, 6.000 ekor telah berhasil dikirim melalui Karantina Poto Tano, sementara sisanya masih dalam proses. “Kami terus memantau perkembangan harian. Setiap hari ada ratusan sapi yang dikirim, dan angka ini akan terus bertambah,” ujarnya optimis.
Meski ada permintaan tambahan pengiriman 3.000 ekor sapi melalui Pelabuhan Gili Mas dan Lembar, Riadi memutuskan untuk menahan sementara pengiriman ke Jabodetabek. Namun, untuk tujuan lain seperti Kalimantan melalui Pelabuhan Badas (Sumbawa) dan Sape (Bima), rekomendasi tetap diberikan. “Kami prioritaskan daerah yang lebih siap menerima,” jelasnya.
Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, menegaskan bahwa perbaikan sistem pengiriman sapi menjadi agenda utama setelah Idul Adha. Pemprov akan duduk bersama dengan pengusaha, aparat, dan regulator untuk menyusun aturan baru yang lebih komprehensif. “Kami ingin sistem yang terintegrasi dari hulu ke hilir, melibatkan semua pihak, termasuk jaminan ketersediaan kapal,” papar Iqbal.
Kolaborasi lintas provinsi juga digalakkan. Iqbal telah berkoordinasi dengan Gubernur Bali, I Wayan Koster, untuk mempermudah transit sapi NTB melalui daratan Bali. Setelah diskusi intensif, Dishub Bali akhirnya mengizinkan truk ternak melintas malam hari di jalur Padang Bai menuju Jawa. “Ini terobosan besar. Untuk pertama kalinya, sapi NTB bisa lewat Bali tanpa hambatan berarti,” ujar Iqbal bangga.
Kebijakan baru ini disambut antusias oleh peternak dan pengusaha. Dengan sistem yang lebih terstruktur, diharapkan distribusi sapi NTB tidak hanya efisien tetapi juga meningkatkan kesejahteraan peternak lokal. “Kami yakin, langkah ini akan jadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola logistik ternak,” pungkas Riadi.
Perubahan sistem pengiriman sapi NTB ini dinilai sebagai langkah progresif yang menggabungkan kepentingan ekonomi, logistik, dan kesejahteraan hewan. Jika berhasil, model ini berpotensi direplikasi di wilayah lain di Indonesia.















