Tanjungtv.com – Dibalik kemilau ombak yang berkejaran di pesisir pantai dan hamparan pasir putih yang memikat hati, Gili Trawangan – salah satu destinasi wisata paling ikonis di Indonesia – kini menghadapi krisis lingkungan yang mengancam eksistensinya. Sejak awal Mei 2025, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang seharusnya menjadi penjaga lingkungan justru berubah menjadi sumber malapetaka. Ribuan liter limbah domestik dan hotel mengalir bebas ke perairan kristal yang selama ini menjadi kebanggaan Lombok Utara.
BACA JUGA : Gili Indah Menuju Status Kecamatan, Langkah Revolusioner Tingkatkan Layanan Publik dan Pariwisata Nasional
Wardana, Kepala Desa Gili Indah, tak bisa menyembunyikan keprihatinannya. “Ini sudah pada tahap mengkhawatirkan. Setiap hari ribuan wisatawan datang, tapi mereka disambut oleh pemandangan yang memalukan dan bau yang tak sedap,” ujarnya dengan nada getir. Menurut data desa, volume limbah yang terbuang ke laut sudah mencapai puluhan ribu liter per hari, menciptakan genangan air kotor di beberapa titik pesisir.
Kahar Rizal dari Dinas PUPR KLU menjelaskan bahwa kerusakan terjadi pada sistem mekanik dan biologis IPAL. “Mesin pengolah sudah tidak berfungsi optimal sejak awal tahun, dan tangki penampungan mengalami kebocoran di beberapa titik,” paparnya. Yang lebih memprihatinkan, upaya darurat seperti pemasangan pompa penyedot ternyata tidak efektif karena volume limbah yang terus bertambah setiap harinya.
Dampaknya sudah mulai terasa di berbagai sektor:
Pariwisata: Beberapa travel agent melaporkan adanya pembatalan paket wisata
Ekonomi: Pedagang di sepanjang pantai mengeluh penurunan omset hingga 40%
Kesehatan: Puskesmas setempat mencatat peningkatan keluhan penyakit kulit
Lingkungan: Nelayan menemukan ikan-ikan mati di sekitar muara limbah
Ironisnya, krisis ini terjadi di puncak musim turis (high season). Data Dinas Pariwisata KLU menunjukkan bahwa Gili Trawangan biasanya dikunjungi 5.000-7.000 wisatawan per hari di periode Mei-Juli. “Kami khawatir reputasi destinasi ini akan tercemar lebih parah daripada lautnya,” ucap seorang pemilik resort yang enggan disebutkan namanya.
Di balik semua kekhawatiran tersebut, secercah harapan muncul dari rencana intervensi BPPW NTB. Lembaga ini disebutkan sedang menyiapkan skema darurat dengan mengalokasikan dana APBN khusus. “Kami sedang mempercepat proses birokrasi. Target kami dalam dua minggu sudah bisa mulai bekerja,” janji seorang sumber di BPPW yang minta anonim.
Namun para aktivis lingkungan menilai respon ini sudah terlambat. “Ini bukan masalah baru. Sejak 2023 sudah ada tanda-tanda IPAL tidak mampu menampung beban limbah yang terus bertambah,” kritik Lalu Adi, koordinator LSM Bahari Nusantara. Menurutnya, solusi jangka panjang harus mencakup:
Pembangunan IPAL berkapasitas lebih besar
Regulasi ketat untuk properti wisata
Sistem pemantauan real-time
Edukasi pengelolaan limbah mandiri
Sementara itu, di dermaga utama Gili Trawangan, para wisatawan asing terlihat mengernyitkan dahi. “Kami datang karena melihat foto-foto indah di Instagram. Tapi kenyataannya… berbeda,” ucap Sophie, turis asal Prancis sambil menunjuk genangan air keruh di tepi pantai.
Krisis limbah Gili Trawangan menjadi ujian nyata bagi komitmen Indonesia dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan. Tanpa penanganan serius, bukan tidak mungkin surga kecil ini akan berubah menjadi contoh buruk bagaimana kelalaian manusia bisa merusak anugerah alam terindah.















