Bumdesma Tanjung Siap Kuasai Pasar Hotel di Gili Tramena

banner 120x600
banner 468x60

Di balik pesona tiga gili legendaris Trawangan, Meno, dan Air (Tramena)—sebuah terobosan baru sedang dipersiapkan. Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma) Kecamatan Tanjung bersiap melangkah lebih jauh, tak sekadar menjadi etalase produk lokal, tetapi juga pemasok utama bagi puluhan hotel di kawasan wisata dunia itu.

BACA JUGA : Gili Trawangan Darurat Limbah, Ancaman Serius di Balik Pesona Surga WisataGili Trawangan di Ujung Tanduk

banner 325x300

Selama ini, kebutuhan hotel-hotel di Gili Tramena masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Namun, kondisi itu segera berubah. Bumdesma Tanjung, dengan dukungan penuh Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, dan Tenaga Kerja (DPMPTSP-Naker) Kabupaten Lombok Utara (KLU), telah menyusun strategi untuk mengambil peran vital dalam rantai pasok ini.

Kepala DPMPTSP KLU, Evi Winarni, mengungkapkan bahwa pihaknya akan memfasilitasi pertemuan antara Bumdesma Tanjung dan delapan hotel di Gili Tramena sebagai langkah awal. “Ini momen penting. Jika kerja sama ini berhasil, bukan tidak mungkin seluruh hotel di Gili akan beralih ke produk lokal,” tegas Evi dengan penuh keyakinan.

Peluang ini bukan tanpa tantangan. Hotel-hotel di Gili Tramena dikenal memiliki standar kualitas tinggi, mulai dari kesegaran bahan pangan hingga ketepatan pengiriman. Namun, Syamsu Rizal, Sekretaris Bumdesma Tanjung, menyambut tantangan ini dengan optimisme. “Kami sudah memetakan kebutuhan mereka. Sekarang tinggal menyinkronkan kemampuan kami dengan ekspektasi pasar,” ujarnya.

Persiapan matang sedang dilakukan. Bumdesma Tanjung tak hanya fokus pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga menyiapkan sistem logistik dan pembayaran yang fleksibel. Beberapa hotel menerima pembayaran tempo, sementara lainnya memilih sistem COD. “Kami akan beradaptasi. Ini demi membangun kepercayaan jangka panjang,” tambah Rizal.

Inisiatif ini bukan sekadar urusan bisnis, melainkan juga bukti nyata penguatan ekonomi desa. Jika berhasil, dampaknya akan luar biasa: mengurangi ketergantungan pada pasokan luar daerah, membuka lapangan kerja baru, dan menaikkan nilai tambah produk lokal.

DPMPTSP-Naker KLU pun terus mendorong kolaborasi ini. “Kami ingin menunjukkan bahwa produk desa tidak kalah bersaing. Ini awal dari kemandirian ekonomi berbasis komunitas,” pungkas Evi.

Dengan semangat gotong royong dan kesiapan menghadapi pasar tinggi, Bumdesma Tanjung siap menorehkan sejarah baru: menjadikan desa sebagai tulang punggung pasokan industri pariwisata premium. Langkah kecil hari ini bisa menjadi lompatan besar bagi kesejahteraan masyarakat Lombok Utara esok.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *