Kota Mataram Diperhadapkan dengan Lonjakan Pengangguran, Tantangan Tersembunyi di Balik Kemajuan Ekonomi

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com – Di tengah sorotan pencapaian penurunan angka kemiskinan yang terus membaik, Kota Mataram justru menghadapi tantangan baru yang menggelitik kesadaran publik: kenaikan angka pengangguran. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram mengungkap fakta mengejutkan—Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tahun 2024 mencapai 4,85%, naik tipis 0,07% dibanding tahun sebelumnya.

Meski kenaikan terlihat kecil, ini bukan sekadar fluktuasi biasa. Lulusan SMA/SMK menjadi kelompok paling terdampak, kesulitan menembus pasar kerja formal maupun sektor industri yang sedang berkembang. Kepala BPS Kota Mataram, M. Reza Nugraha Kusumowinoto, menegaskan, ketimpangan kompetensi menjadi akar masalah.

banner 325x300

“Mayoritas pengangguran berasal dari lulusan SMA ke bawah. Ini menunjukkan ada gap antara kemampuan tenaga kerja dan kebutuhan industri,” ujar Reza.

Fakta di Balik Angka
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kota Mataram mencapai 71,80%, artinya lebih dari dua pertiga penduduk usia kerja aktif bekerja atau mencari pekerjaan.

Dari 235.420 orang angkatan kerja, 68,32% sudah bekerja—namun sisanya masih terdampar dalam kategori pengangguran.

Urbanisasi turut berkontribusi. Pendatang dari luar kota kerap belum langsung terserap lapangan kerja, menambah daftar pengangguran terbuka.

Sektor Potensial vs Realita
Reza menggarisbawahi bahwa Mataram tidak memiliki industri besar seperti kota metropolitan. Namun, sektor perdagangan dan kuliner dinilai mampu menyerap tenaga kerja, khususnya bagi lulusan menengah.

“Tidak harus pabrik—perdagangan, kuliner, bahkan UMKM bisa jadi solusi. Tapi butuh pelatihan dan pendampingan,” tegasnya.

Respons Pemerintah: Pelatihan hingga Modal Usaha
Dinas Ketenagakerjaan Kota Mataram tak tinggal diam. Kepala Dinas Rudi Suryawan membeberkan strategi konkret:

Pelatihan kerja tahun 2024 menyasar 146 orang, mencakup perbaikan AC, las, tata boga, dan tata rias.

Peserta pelatihan dibekali peralatan sebagai modal usaha, mendorong kemandirian.

“Target kami bukan sekadar mengurangi pengangguran, tapi menciptakan wirausaha baru,” tegas Rudi.

Optimisme di Tengah Tantangan
Reza menekankan, kenaikan TPT bukan indikator kegagalan, melainkan peringatan untuk berinovasi. Ia mendorong kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri untuk menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan pasar.

“Ini momentum evaluasi, bukan alasan pesimis. Kota Mataram punya potensi, tinggal bagaimana kita mengoptimalkannya,” tandasnya.

Proyeksi TPT 2025 masih menunggu survei Agustus mendatang. Namun, satu hal pasti: solusi kreatif dan sinergi multipihak menjadi kunci mengubah tantangan ini menjadi peluang.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *