Berita  

Kisah Sukses Indonesia Tekan Angka Kematian Jamaah Haji di Tengah Cuaca Ekstrem, Pujian Mengalir dari Arab Saudi

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com – Di tengah suhu yang mencapai lebih dari 50 derajat Celsius, ibadah haji tahun ini menjadi ujian berat bagi jutaan jamaah dari seluruh dunia. Namun, Indonesia mencatatkan prestasi luar biasa dengan berhasil menekan angka kematian jamaah secara signifikan, bahkan di fase-fase kritis seperti Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Data terbaru menunjukkan, dari 175 jamaah Indonesia yang wafat, mayoritas disebabkan oleh komplikasi penyakit jantung, infeksi berat, dan dehidrasi—faktor yang sebenarnya sudah diprediksi.

BACA JUGA : Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar Siap Hadapi Tantangan Besar, Pariwisata Jadi Prioritas Utama!

banner 325x300

Yang mengejutkan, fase Armuzna yang selama ini dijuluki “zona merah” justru tidak mengalami lonjakan kematian seperti tahun-tahun sebelumnya. Padahal, kecerdasan buatan (AI) milik pemerintah Arab Saudi sempat memprediksi ratusan jamaah Indonesia bisa wafat selama periode tersebut. Kenyataannya? Hanya sembilan orang yang meninggal saat wukuf.

Strategi Preventif Jadi Kunci Kesuksesan

Kepala BPOM RI sekaligus anggota Amirul Hajj, Prof. Taruna Ikrar, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari kerja keras tim kesehatan haji Indonesia yang mengedepankan pendekatan preventif. Lebih dari 1.000 tenaga kesehatan dikerahkan secara masif, mulai dari petugas kloter hingga tim medis lapangan. Mereka tidak hanya memberikan perawatan, tetapi juga gencar melakukan edukasi kepada jamaah tentang pentingnya menghindari aktivitas fisik berlebihan di siang hari.

“Sosialisasi ketat kami lakukan sejak jauh hari. Jamaah dilarang beraktivitas di luar tenda antara pukul 10.00 hingga 16.00 waktu Arab Saudi. Selain itu, suplemen dan vitamin dibagikan secara rutin untuk menjaga daya tahan tubuh,” jelas Taruna.

Langkah strategis lain yang terbukti efektif adalah pengaturan jadwal pergerakan jamaah di malam hari untuk menghindari sengatan matahari ekstrem. Hasilnya, meski suhu di Armuzna sempat memecahkan rekor, angka kematian justru lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Apresiasi Langsung dari Pangeran Mohammed bin Salman

Keberhasilan Indonesia tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga mendapat pujian langsung dari Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS). Pemerintah Saudi menilai Indonesia sebagai salah satu negara yang paling sukses dalam mengelola logistik dan kesehatan jamaah, meskipun menjadi penyumbang jamaah terbanyak.

Menteri Agama Nasaruddin Umar turut membenarkan bahwa fasilitas haji tahun ini jauh lebih baik, mulai dari kualitas tenda, ketersediaan air bersih, hingga layanan medis keliling. “Bahkan distribusi konsumsi untuk jamaah melebihi kebutuhan. Ini menunjukkan komitmen bersama untuk memastikan ibadah berjalan lancar,” ujarnya.

Tantangan ke Depan: Perketat Syarat Istitha’ah

Meski berhasil menekan angka kematian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan pentingnya memperketat syarat istitha’ah (kemampuan fisik dan finansial) bagi calon jamaah. Sekjen MUI Amirsyah Tambunan menyoroti masih adanya jamaah dengan kondisi demensia atau penyakit berat yang tetap diberangkatkan.

“Secara syariat, jika seseorang sudah tidak memenuhi syarat kesehatan, seharusnya dibadalkan. Jangan sampai faktor pembayaran menjadi pertimbangan utama,” tegas Amirsyah.

Dengan segala pencapaian dan pembelajaran tahun ini, Indonesia membuktikan bahwa kolaborasi antara kebijakan proaktif, layanan kesehatan prima, dan kedisiplinan jamaah bisa mengalahkan tantangan cuaca ekstrem. Tantangan berikutnya? Memastikan jamaah yang kembali ke Tanah Air dalam kondisi sehat dan siap menjadi duta haji yang inspiratif.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *