Tanjungtv.com – suasana pulau tanpa mesin langsung terasa. Tak ada truk boks, tak terdengar knalpot. Yang terlihat justru cidomo barang—atau yang oleh warga setempat kerap disebut dokar barang—mengangkut logistik menuju hotel, restoran, dan usaha wisata lainnya.
Kebiasaan ini bukan hal baru bagi masyarakat lokal. Sejak lama, cidomo menjadi tulang punggung pergerakan barang di pulau, menggantikan fungsi kendaraan bermotor yang umum ditemui di daerah lain. Pola hidup tanpa mesin itu menjadikan Gili Trawangan dikenal sebagai kawasan wisata ramah lingkungan dengan ritme yang lebih tenang.
Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Lombok Utara, Ali Imron, menegaskan bahwa penggunaan cidomo barang merupakan bagian dari kearifan lokal yang terus dijaga. “Di Gili Trawangan memang tidak dikenal mobil barang. Dari dulu masyarakat mengandalkan cidomo untuk distribusi logistik, dan sampai sekarang masih efektif,” ujarnya.
Menurut Ali Imron, keberadaan cidomo barang bukan sekadar alat angkut, melainkan hasil kesepakatan sosial warga pulau untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan nyaman. “Ini bukan karena keterbatasan, tapi pilihan. Pariwisata di sini dibangun dengan filosofi pelan, bersih, dan minim polusi,” katanya.
Ia menjelaskan, sistem angkut tradisional ini juga mendukung citra Gili Trawangan sebagai destinasi wisata hijau. Wisatawan yang baru tiba tak hanya disuguhi pantai dan laut, tetapi juga pengalaman unik melihat logistik hotel diantar dengan cidomo—sebuah pemandangan yang jarang ditemui di destinasi wisata lain.
Namun demikian, Ali Imron menekankan pentingnya aspek kesejahteraan hewan. Pemerintah daerah, kata dia, terus mendorong pemilik cidomo untuk memperhatikan kesehatan kuda, mulai dari waktu kerja, istirahat, hingga perawatan rutin. “Kenyamanan wisatawan harus sejalan dengan perlindungan terhadap hewan,” tegasnya.
Dalam praktiknya, banyak pemilik cidomo kini semakin sadar akan hal tersebut. Kuda diberi jeda istirahat, asupan makan yang cukup, serta pemeriksaan berkala. Hal ini menjadi bagian dari upaya kolaboratif antara masyarakat, pelaku wisata, dan pemerintah daerah.
Cidomo barang akhirnya menjadi simbol keseimbangan: antara kebutuhan logistik pariwisata dan komitmen menjaga alam. Di tengah dunia yang serba cepat, Gili Trawangan memilih cara berbeda—mengantar barang dengan langkah kuda yang pelan, namun penuh makna.















