Tanjungtv.com – Gili Trawangan sejak lama dikenal sebagai kawasan wisata tanpa kendaraan bermotor. Kebijakan ini menjadikan cidomo—angkutan tradisional bertenaga kuda—sebagai tulang punggung mobilitas wisatawan sekaligus ikon transportasi ramah lingkungan yang masih bertahan hingga kini.
Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Lombok Utara, Ali Imron, menegaskan bahwa keberadaan cidomo bukan sekadar alat transportasi, tetapi bagian dari identitas pariwisata Gili Trawangan yang harus dijaga keberlanjutannya.
“Cidomo ini bukan hanya soal angkutan, tapi warisan budaya transportasi lokal yang mendukung konsep green tourism di kawasan Gili,” ujar Ali Imron, Senin (1/2).
Menurutnya, kebijakan tanpa kendaraan bermotor di Gili Trawangan merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kualitas lingkungan dan kenyamanan wisatawan. Namun, ia mengakui bahwa para kusir cidomo saat ini menghadapi tantangan berat, terutama pasca gempa 2018 dan pandemi COVID-19.
“Pasca dua peristiwa besar itu, aktivitas pariwisata sempat lumpuh. Dampaknya sangat terasa bagi para kusir cidomo karena sektor ini sangat bergantung pada kunjungan wisatawan,” jelasnya.
Ali Imron menyebutkan, Dishub Lombok Utara terus melakukan evaluasi dan pembinaan agar operasional cidomo tetap tertib, aman, dan layak, baik dari sisi tarif maupun kesejahteraan kusir serta kesehatan hewan penarik.
“Kami mendorong adanya penyesuaian tarif yang wajar, tidak memberatkan wisatawan, tetapi tetap manusiawi bagi kusir cidomo yang juga menanggung biaya perawatan kuda setiap hari,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia kusir cidomo, termasuk kemampuan berkomunikasi dengan wisatawan mancanegara. Hal ini dinilai penting agar layanan transportasi tradisional tetap kompetitif di tengah perubahan selera wisatawan.
“Cidomo harus diposisikan sebagai pengalaman wisata, bukan sekadar alat angkut. Di sinilah peran pelayanan, keramahan, dan komunikasi menjadi nilai tambah,” ujarnya.
Seiring mulai pulihnya kunjungan wisata ke Gili Trawangan sejak akhir 2022, Dishub Lombok Utara berharap sektor transportasi tradisional ini ikut bangkit. Ali Imron optimistis, momentum kebangkitan pariwisata akan menghidupkan kembali roda ekonomi masyarakat lokal.
“Kami berharap Gili kembali ramai, karena ketika pariwisata hidup, cidomo hidup, dan masyarakat Gili Trawangan juga ikut sejahtera,” pungkasnya.















