Tanjungtv.com – Dugaan keracunan yang dialami 29 murid sekolah dasar (SD) di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Rabu (11/2), kini memasuki tahap krusial. Hasil uji laboratorium menjadi penentu arah kebijakan lanjutan terhadap operasional dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tersebut.
Hingga kini, Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Utara masih menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan yang telah dikirim ke laboratorium kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan KLU, dr. Lalu Bahrudin, menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin berspekulasi sebelum hasil resmi keluar.
“Kami masih menunggu hasilnya,” ujarnya.
Dapur SPPG Dihentikan Sementara
Sebagai langkah antisipatif, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Malaka yang menjadi penyedia MBG langsung dihentikan operasionalnya.
Penutupan ini bersifat sementara dan akan berlangsung hingga hasil laboratorium keluar serta evaluasi menyeluruh dilakukan.
Koordinator BGN Regional NTB, Eko Prasetyo, menjelaskan bahwa seluruh proses pengolahan makanan di dapur SPPG telah diatur dalam petunjuk teknis (juknis), mulai dari penerimaan bahan baku, proses persiapan, pengolahan, hingga distribusi dan konsumsi.
Menurutnya, makanan yang telah diproduksi wajib dikonsumsi maksimal dalam rentang 4 hingga 6 jam untuk menjaga kualitas dan keamanan.
“SPPG dilakukan evaluasi apa yang harus diperbaiki, selanjutnya sekarang kita menunggu hasil lab,” tegasnya.
Klaim Prosedur Sudah Sesuai Juknis
Di sisi lain, Kepala Dapur SPPG Malaka, M. Judin Nasrullah, memastikan bahwa proses pengolahan makanan telah mengikuti standar operasional yang berlaku.
Ia menyebut sebelum makanan didistribusikan, telah dilakukan uji organoleptik untuk memastikan tidak ada perubahan rasa, aroma, maupun kualitas.
Terkait menu ayam yang disebut-sebut menjadi dugaan penyebab, pihak dapur belum mengambil kesimpulan.
“Soal menu ayam yang menjadi dugaan, tentu kami belum mengambil kesimpulan itu, kami juga tunggu hasil investigasi. Proses pengolahan makanan hari ini sudah sesuai juknis,” katanya.
Judin juga menambahkan bahwa kejadian ini merupakan yang pertama kali terjadi sejak dapur tersebut beroperasi. Ia mengungkapkan sebagian besar bahan makanan dipasok dari luar Lombok Utara, termasuk roti, sayur, dan ayam.
Evaluasi Jadi Momentum Perbaikan
Kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut program pemenuhan gizi bagi anak sekolah. Sambil menunggu hasil laboratorium, evaluasi menyeluruh terhadap rantai pasok, standar penyimpanan, hingga distribusi makanan tengah menjadi fokus utama.
Pemerintah daerah memastikan keselamatan dan kesehatan siswa menjadi prioritas. Hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan apakah dapur SPPG dapat kembali beroperasi atau perlu dilakukan pembenahan lebih lanjut.
Untuk sementara, program MBG di Desa Malaka dihentikan, sembari memastikan seluruh prosedur keamanan pangan benar-benar terpenuhi sebelum kembali berjalan.















