Dari Sawah ke Kesadaran: Muhamad Sukri Menggerakkan Revolusi Organik Lombok Utara‎

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com — Nama Muhamad Sukri dikenal luas di kalangan petani Lombok Utara, bukan semata karena rekam jejaknya sebagai mantan Kepala Desa Pemenang Barat selama dua periode, melainkan karena konsistensinya memperjuangkan pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.

‎Berbeda dari kebanyakan tokoh desa yang kiprahnya berhenti pada jabatan administratif, Sukri justru menjadikan sawah dan ladang sebagai ruang pengabdian utamanya. Sejak era 1990-an, ia telah menyuarakan kegelisahan yang sama: tanah pertanian semakin rusak akibat ketergantungan berlebihan pada pupuk kimia. “Tanah kita sudah lelah,” ujarnya, menggambarkan kondisi lahan yang menurutnya kehilangan daya hidup.

‎Alih-alih sekadar wacana, Sukri memilih jalan pembuktian. Ia memproduksi pupuk dan pestisida organik secara mandiri dengan memanfaatkan limbah dan kotoran ternak di sekitar lingkungan. Bahan sederhana, biaya murah, namun berdampak besar bagi perbaikan struktur tanah. Menurutnya, pupuk organik membuat tanah lebih gembur, tanaman lebih sehat, dan hasil panen meningkat.

‎Hasil nyata terlihat di Desa Samaguna, Kecamatan Tanjung. Pada lahan seluas 10 are, penggunaan pupuk organik dengan pengurangan pupuk kimia mampu mendongkrak hasil panen padi hingga mencapai satu ton gabah. Capaian ini menjadi bukti bahwa pertanian ramah lingkungan bukan sekadar idealisme, melainkan solusi praktis bagi petani.

‎Sukri menyadari, perubahan tidak bisa dipaksakan. Ketergantungan petani pada pupuk kimia telah berlangsung puluhan tahun sejak era Revolusi Hijau. Karena itu, pendekatannya lebih persuasif. “Tidak harus langsung seratus persen organik, yang penting mulai mengurangi,” katanya.

‎Melalui forum-forum kelompok tani dan perannya di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Sukri terus melakukan edukasi secara mandiri. Ia menyebut gerakan ini sebagai bagian dari semangat Revolusi Organik Lombok Utara—sebuah ajakan kolektif untuk menyelamatkan tanah sekaligus meningkatkan produktivitas.

‎Bagi Sukri, masa depan pertanian Lombok Utara terletak pada kesediaan semua pihak untuk bergerak bersama. Dengan transisi bertahap menuju pupuk organik, ia optimistis hasil pertanian tidak hanya meningkat, tetapi juga meninggalkan warisan tanah yang lebih sehat bagi generasi berikutnya

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *