Tanjungtv.com – DE Galih Mulyadi kembali menorehkan prestasi membanggakan di dunia literasi. Pria kelahiran 1 September 1988 ini berhasil menjadi salah satu peserta terpilih dalam Sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa NTB. Karyanya berjudul “Tune Putek Kokoq Daye” dinilai sebagai salah satu naskah terbaik yang akan dipublikasi, menambah deretan prestasinya di bidang tulis-menulis.
BACA JUGA : Warga Gili Trawangan Bersatu Pertahankan Lahan Bersejarah, Dukung Dialog dengan Pemda Lombok Utara
Mulyadi bukanlah nama baru di jagat sastra. Goresan tangannya kerap menghiasi rubrik sastra di berbagai media ternama. Meski mengaku lebih sering menulis lakon drama, ia selalu menyempatkan diri untuk berpartisipasi dalam sayembara cerita anak. “Ini sudah keempat kalinya saya ikut lomba di Balai Bahasa, dan alhamdulillah selalu lolos publikasi,” ujarnya dengan senyum sumringah.
Cerita “Tune Putek Kokoq Daye” terinspirasi dari legenda lokal di kampung halamannya, Dusun Kakong, Desa Selelos, Kecamatan Gangga. Kisah ini mengangkat tema pelestarian lingkungan dengan sentuhan budaya Sasak. Ia menceritakan tentang Tuna Putih (Tune Puteq), makhluk mistis yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu. Dalam ceritanya, Mulyadi memadukan kisah magis ini dengan realita kehidupan anak-anak desa yang gemar memancing di sungai.
Alur cerita berawal dari sekelompok anak SD yang frustasi karena tidak berhasil menangkap ikan, sementara sekelompok pemuda justru mendapat hasil melimpah dengan cara tidak etis—menggunakan setrum listrik dan racun. Anak-anak itu pun tergoda untuk meniru, namun malah dikejar oleh Tuna Putih raksasa yang marah. “Mereka akhirnya sadar, merusak alam hanya akan membawa petaka,” jelas Mulyadi.
Sebagai Ketua Sanggar Gunung di Lombok Utara, Mulyadi memang kerap menyisipkan pesan moral dalam karyanya. “Saya ingin anak-anak memahami bahwa alam harus dijaga, bukan dieksploitasi,” tegasnya. Karya-karyanya sebelumnya juga telah dipublikasikan dalam bentuk e-book, dan tahun ini rencananya akan dibukukan oleh Balai Bahasa NTB.
Prestasi Mulyadi membuktikan bahwa literasi bisa menjadi media ampuh untuk menyampaikan pesan positif sekaligus melestarikan kearifan lokal. Sosoknya pun menjadi inspirasi bagi penulis muda di NTB untuk terus berkarya tanpa batas.















