Dispar KLU, Kontribusi AKACINDO Perkuat Fondasi Sosial Wisata Lombok Utara

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com– Di tengah geliat kebangkitan wisata Gili dan pesisir Lombok Utara, ada cerita lain yang tak banyak disorot: rumah-rumah reyot yang masih berdiri di balik indahnya destinasi kelas dunia. Kali ini, kebangkitan pariwisata tidak hanya diukur dari okupansi hotel atau padatnya fast boat, tetapi dari atap baru yang menaungi keluarga kecil di desa.

Melalui program CSR, Asosiasi Kapal Cepat Indonesia (AKACINDO) membangun tujuh unit rumah layak huni bagi warga Kabupaten Lombok Utara (KLU). Langkah ini bukan sekadar aksi sosial simbolik, melainkan sinyal bahwa pelaku industri transportasi laut mulai menyadari tanggung jawab moralnya terhadap daerah yang menjadi sumber hidup mereka.

banner 325x300

Selama ini, kapal cepat menjadi urat nadi wisata tiga Gili. Ribuan wisatawan setiap bulan bergantung pada layanan tersebut. Namun di darat, tak semua warga merasakan dampak ekonomi secara merata. Di sinilah intervensi sosial menjadi relevan: bagaimana industri yang menikmati perputaran miliaran rupiah turut memperbaiki kualitas hidup masyarakat lokal.

Kepala Dinas Pariwisata KLU, Denda Dewi Tresni Budi Astuti, menyebut kolaborasi ini sebagai bentuk sinergi konkret antara pemerintah dan pelaku usaha. Namun lebih dari itu, ini adalah model distribusi manfaat pariwisata yang lebih adil.

Program ini disalurkan melalui skema “Jubah” (Jumat Bahagia/Ibadah), wadah kolaborasi sosial Pemerintah Daerah KLU dengan mitra strategis. Skema tersebut menjadi instrumen agar CSR tidak berjalan sporadis, melainkan terintegrasi dalam agenda pembangunan daerah.

Jika ditarik lebih jauh, pembangunan tujuh rumah ini bisa dibaca sebagai upaya menutup jurang sosial di wilayah wisata. Ketika warga merasakan manfaat langsung, rasa memiliki terhadap destinasi akan tumbuh. Mereka tidak lagi menjadi penonton di kampung sendiri, tetapi bagian dari ekosistem pariwisata yang hidup.

Momentum ini juga datang saat tren kunjungan wisata mulai menunjukkan pemulihan signifikan. Di penghujung tahun, okupansi hotel diproyeksikan meningkat. Namun pertanyaan mendasarnya: apakah pertumbuhan itu benar-benar inklusif? Atau hanya berputar di lingkar industri semata?

Langkah AKACINDO memberi contoh bahwa keberlanjutan pariwisata tidak cukup dengan promosi dan event. Ia harus menyentuh aspek sosial—hunian layak, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi warga.

Kini publik menunggu, apakah asosiasi perhotelan, restoran, hingga pelaku usaha lainnya akan mengikuti jejak serupa? Sebab kebangkitan pariwisata Lombok Utara tidak akan kokoh jika fondasi sosialnya masih rapuh.

Di balik deru mesin kapal cepat yang membelah laut biru Gili, ada harapan baru yang berdiri dalam bentuk dinding bata dan atap seng. Dan mungkin, di situlah makna kebangkitan yang sesungguhnya dimulai.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *