Tanjungtv.com — Forum dialog antara Pemuda Menggala dan para wakil rakyat bukan sekadar ajang temu wicara. Forum ini menjadi ruang terbuka bagi anak muda untuk menyuarakan kegelisahan yang selama ini terpendam, mulai dari persoalan ekonomi, pendidikan, sosial, hingga arah masa depan generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi.
Forum ini dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Lombok Utara Agus Jasmani bersama Ibunda Hj. Rohani, anggota DPRD Provinsi NTB, serta sejumlah anggota DPRD Kabupaten Lombok Utara, di antaranya Ikhwanudin, H. Taufik, dan H. Arsan. Diskusi berjalan terbuka dan kritis, dengan harapan besar agar forum tidak berakhir pada jawaban normatif dan politis semata.
Ketua DPRD KLU Agus Jasmani, memberikan apresiasi atas inisiatif dan keaktifan pemuda Desa Menggala. Ia menilai kegiatan tersebut mencerminkan tanda-tanda kemajuan daerah yang sejalan dengan visi-misi Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, yakni Bersatu untuk Maju.
“Salah satu tanda kemajuan daerah adalah ketika pemudanya aktif. Kegiatan ini adalah bentuk nyata keaktifan pemuda Lombok Utara,” katanya.
Selain itu, Ketua DPRD KLU menegaskan bahwa lembaga legislatif bersifat terbuka terhadap komunikasi dan aspirasi masyarakat, termasuk dari kalangan pemuda.
“Kami di DPRD sangat terbuka. Apa pun itu, silakan rekan-rekan, sahabat-sahabat semua untuk berkomunikasi,” tegasnya.
Kegelisahan itu lahir dari realitas lapangan. Data sosial menunjukkan sekitar 70 persen pemuda Menggala menggantungkan hidup pada sektor pariwisata, terutama di kawasan Tiga Gili yang secara geografis berdekatan dengan Desa Menggala. Ketergantungan ini dinilai rawan jika tidak diiringi dengan perlindungan hak, peningkatan kapasitas, dan peluang naik kelas bagi tenaga kerja lokal.
Ketua Karang Taruna Desa Menggala, Juanda Ali Sahbana, menegaskan bahwa forum dialog ini bukan ruang formalitas belaka. Menurutnya, kegelisahan pemuda hari ini lahir dari kondisi nyata yang mereka hadapi setiap hari.
“Pemuda Menggala tidak datang untuk mendengar janji. Kami datang membawa persoalan dan harapan agar ada keberpihakan nyata. Jika pariwisata menjadi tulang punggung daerah, maka pemudanya juga harus menjadi prioritas pembangunan,” tegas Juanda.
Pemuda Menggala menilai, selama ini anak muda di sektor pariwisata masih banyak ditempatkan sebagai pekerja di lapis terbawah industri. Padahal, dengan pengalaman dan potensi yang dimiliki, mereka seharusnya mendapat ruang untuk berkembang menjadi pengelola, pengambil keputusan, bahkan pemimpin di sektor strategis tersebut. Terlebih, kawasan Gili Indah dikenal sebagai salah satu penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar, sehingga Kecamatan Pemenang dinilai layak menjadi skala prioritas kebijakan pemerintah daerah.
Tak hanya pariwisata, sektor pertanian juga mencuat sebagai isu penting dalam forum tersebut. Pemuda menilai pertanian di Desa Menggala memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai penyangga ekonomi, terutama ketika sektor pariwisata mengalami tekanan akibat faktor global, bencana, maupun kejenuhan pasar. Namun, tantangan utama masih berkutat pada minimnya inovasi, akses permodalan, dan kebijakan yang berpihak pada generasi muda.
Forum dialog berlangsung dinamis dan cukup alot. Setiap perwakilan remaja dusun hadir membawa persoalan konkret dari wilayahnya masing-masing. Diskusi tidak hanya berisi keluhan, tetapi juga dorongan agar wakil rakyat benar-benar memahami kondisi riil pemuda di tingkat desa.
Pemuda Menggala menegaskan sikap mereka: siap mengawal dan menagih setiap janji yang disampaikan. Bagi mereka, forum dialog harus melahirkan kebijakan nyata, bukan sekadar dokumentasi kegiatan. Masa depan, tegas mereka, bukan untuk ditunggu, melainkan diperjuangkan bersama dengan kesadaran, persatuan, dan keberanian bersuara.















