Gunung Sampah Pasca MotoGP Mandalika 2024, DLH Lombok Tengah Berjibaku dengan 35,67 Ton Limbah Tidak Terolah.

JAKARTA, 3/2 - VOLUME SAMPAH JAKARTA. Petugas menaikkan sampah ke dalam bak truk di Tempat Pembuangan Sementara Cipinang, Jakarta Timur, Minggu (3/2). Usai banjir besar Jakarta pertengahan Januari 2013, volume sampah di seluruh wilayah meningkat rata-rata 1100 ton per hari, terbesar dari Jakarta Utara dan Barat. FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma/Koz/pd/13.
banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com – Perhelatan MotoGP Mandalika 2024 yang berlangsung pada tanggal 27-29 September di Sirkuit Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, bukan hanya menjadi ajang balapan kelas dunia, tetapi juga meninggalkan jejak lingkungan yang sangat besar. Selama tiga hari penyelenggaraan event internasional tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Tengah mencatat lonjakan signifikan dalam volume sampah yang dihasilkan, mencapai 35,67 ton. Menurut Kepala DLH Lombok Tengah, Lalu Sarkin, sebagian besar sampah ini harus dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pengengat, Kecamatan Pujut, karena tidak bisa didaur ulang.

“Pasca ajang MotoGP Indonesia 2024, tim kami masih terus menyisir dan mengumpulkan sisa-sisa sampah yang tidak sempat tertangani selama event berlangsung. Sampah tersebut sebagian besar berasal dari material non-organik yang sulit untuk didaur ulang atau diolah lebih lanjut,” ungkap Lalu Sarkin pada Senin (7/10). Data sementara menunjukkan, total sampah yang berhasil ditangani selama ajang MotoGP ini telah diangkut menuju TPA Pengengat.

banner 325x300

Lonjakan Sampah Dibanding Tahun Lalu

Jika dibandingkan dengan event MotoGP tahun 2023, jumlah sampah yang dihasilkan pada tahun 2024 mengalami peningkatan yang signifikan. Pada event MotoGP tahun sebelumnya, DLH Lombok Tengah mencatat volume sampah yang dihasilkan mencapai 25 ton, terdiri dari sampah organik maupun non-organik. Lonjakan 10,67 ton pada tahun ini menandakan peningkatan jumlah pengunjung dan aktivitas selama event, yang berdampak langsung pada peningkatan jumlah limbah.

Namun, peningkatan jumlah sampah ini bukan satu-satunya masalah. Sarkin menambahkan bahwa tantangan terbesar DLH adalah dalam memilah sampah yang memiliki nilai ekonomi dan yang tidak bisa didaur ulang. “Kami telah melakukan pemilahan langsung di lapangan, namun volume sampah non-daur ulang tetap sangat besar. Sampah-sampah yang tidak bisa didaur ulang ini yang akhirnya harus dibuang ke TPA,” jelasnya.

Pemilahan Sampah dan Bank Sampah: Upaya yang Belum Optimal

Di tengah tantangan penanganan sampah yang terus meningkat, DLH Lombok Tengah berupaya mengoptimalkan pemilahan sampah selama event berlangsung. Sarkin menjelaskan bahwa sampah yang memiliki potensi ekonomi, seperti plastik dan material lainnya yang dapat didaur ulang, telah dipisahkan untuk disalurkan ke Bank Sampah. Meski demikian, tidak semua sampah dapat diselamatkan dari TPA.

“Sebagian besar dari 35,67 ton yang dibuang ke TPA adalah sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis dan tidak bisa didaur ulang. Ini termasuk berbagai jenis plastik sekali pakai yang sangat sulit untuk diolah,” lanjut Sarkin. Pemilahan sampah ini merupakan bagian dari upaya DLH Lombok Tengah dalam mengurangi dampak lingkungan dari event MotoGP, yang dihadiri oleh puluhan ribu penonton lokal maupun internasional.

Meningkatnya Kesadaran Publik, Namun Sampah Tetap Menumpuk

Meski jumlah sampah meningkat, DLH Lombok Tengah mencatat adanya peningkatan dalam kesadaran masyarakat dan penyelenggara untuk memilah dan mengelola sampah dengan lebih baik. Berbagai kampanye mengenai pengelolaan sampah dan daur ulang dilakukan selama event berlangsung, namun hasilnya masih belum maksimal. Sampah-sampah yang tidak bisa didaur ulang tetap menjadi masalah besar.

“Kami mengapresiasi upaya berbagai pihak dalam meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya memilah sampah. Namun, kenyataannya adalah, volume sampah yang tidak bisa didaur ulang masih sangat besar,” kata Sarkin. Ia juga menegaskan bahwa penanganan sampah pada event-event besar seperti MotoGP membutuhkan kerja sama dari semua pihak, termasuk panitia penyelenggara, pengunjung, dan pemerintah daerah.

Kapasitas TPA Pengengat Diuji

TPA Pengengat, yang berlokasi di Kecamatan Pujut, kembali menjadi tujuan akhir dari sebagian besar sampah yang dihasilkan selama MotoGP Mandalika 2024. Dengan bertambahnya volume sampah yang masuk ke TPA setiap tahun, DLH Lombok Tengah harus menghadapi tantangan lain: keterbatasan kapasitas TPA. Sarkin menyebutkan bahwa pihaknya sedang mencari solusi untuk memperpanjang umur TPA tersebut, termasuk dengan upaya memperluas area TPA dan meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah.

“Kapasitas TPA Pengengat jelas semakin terbatas dengan volume sampah yang terus bertambah setiap tahunnya. Kami sedang berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mencari solusi jangka panjang,” tegasnya.

Upaya Pengelolaan Sampah di Masa Depan

DLH Lombok Tengah tidak tinggal diam menghadapi tantangan ini. Sarkin menekankan bahwa pihaknya akan terus berupaya meningkatkan pemilahan sampah, memaksimalkan peran bank sampah, dan mengurangi sampah yang tidak bisa didaur ulang. “Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab kita semua. Kami akan terus berusaha untuk mengurangi sampah yang masuk ke TPA, terutama pada event-event besar seperti MotoGP ini,” katanya.

Dalam jangka panjang, DLH juga berencana untuk melibatkan lebih banyak masyarakat dalam proses daur ulang dan pemilahan sampah, serta mengedukasi pengunjung event besar untuk bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan. Selain itu, DLH berharap dukungan dari pemerintah pusat dalam memperkuat infrastruktur pengelolaan sampah di kawasan wisata dan event internasional seperti Mandalika.

MotoGP 2024: Bukan Hanya Balapan, Tapi Juga Tantangan Lingkungan

Dengan meningkatnya jumlah pengunjung yang datang ke Sirkuit Mandalika setiap tahun, pengelolaan sampah menjadi salah satu isu lingkungan yang harus mendapatkan perhatian serius. Event besar seperti MotoGP tidak hanya membawa manfaat ekonomi, tetapi juga menimbulkan tantangan lingkungan yang besar bagi daerah tuan rumah seperti Lombok Tengah.

“Keberhasilan event MotoGP tidak hanya diukur dari kemeriahan balapan, tetapi juga dari seberapa baik kita mampu mengelola dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Ini adalah tantangan besar yang perlu kita hadapi bersama,” tutup Sarkin.

Dengan tantangan yang terus berkembang, DLH Lombok Tengah kini berupaya mengubah cara pengelolaan sampah di event besar seperti MotoGP, untuk menciptakan sistem yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *