Tanjungtv.com — Di tengah musim kemarau yang biasanya membawa tantangan besar bagi para petani, harga cabai di Lombok Timur tetap stabil dan tidak mengalami kenaikan yang berarti. Meski kondisi cuaca saat ini mempengaruhi produksi di beberapa wilayah, harga cabai rawit merah di tingkat petani berada di kisaran Rp 25 ribu hingga Rp 26 ribu per kilogram, sementara di pasar lokal harganya berkisar antara Rp 28 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram.
Ketua Champion Cabai Lombok Timur, Subhan, menyatakan bahwa meskipun musim kemarau telah mempengaruhi sebagian produksi cabai, stok cabai di Lombok Timur tetap melimpah dan mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal. “Alhamdulillah, stok cabai kita sangat melimpah. Insyaallah, ketersediaan cabai kita di Lotim masih aman,” ungkap Subhan dengan optimis.
Setiap harinya, Champion Cabai mampu memproduksi antara 5 hingga 7 ton cabai, dengan 4 ton di antaranya dikirim ke luar daerah seperti Jakarta dan wilayah lainnya. Namun, sebelum pengiriman dilakukan, pihaknya memastikan bahwa kebutuhan lokal di Lombok Timur sudah terpenuhi. “Kami selalu pastikan kebutuhan lokal terpenuhi terlebih dahulu sebelum mengirim cabai keluar daerah. Hal ini penting agar harga cabai di Lombok Timur tetap stabil dan tidak menimbulkan inflasi,” jelasnya.
Langkah proaktif ini diambil untuk menjaga kestabilan harga di pasar lokal, sehingga tidak terjadi lonjakan harga yang dapat merugikan konsumen. Subhan juga menambahkan bahwa jika stok cabai di Lombok Timur menipis atau permintaan di pasar lokal meningkat, pengiriman ke luar daerah akan dihentikan sementara. “Sebelum kebutuhan di Lotim terpenuhi, cabai tidak akan dikirim keluar. Kami mengutamakan kebutuhan lokal agar harga tidak terlalu mahal di pasaran,” lanjutnya.
Meski kemarau menyebabkan sedikit penurunan produksi, Subhan menyebutkan bahwa dampak tersebut masih bisa diatasi. Produksi cabai di Lombok Timur tetap berjalan cukup baik meskipun terjadi penurunan akibat cuaca kering. Menurutnya, langkah antisipasi yang dilakukan telah membantu menjaga kualitas dan kuantitas produksi cabai di wilayah tersebut.
Sementara itu, Pj. Bupati Lombok Timur, HM. Juaini Taofik, juga turut menyoroti pentingnya pengendalian harga cabai untuk menekan laju inflasi di daerah. Juaini menekankan bahwa cabai adalah salah satu komoditas yang sering kali menjadi penyebab utama inflasi, dan melalui koordinasi antara Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dengan Champion Cabai, inflasi dapat dikendalikan dengan baik. “Langkah kami dalam berkoordinasi dengan para petani cabai telah terbukti efektif untuk menjaga kestabilan harga cabai di Lombok Timur,” ujarnya.
TPID bersama Champion Cabai secara rutin memantau kondisi pasar dan pasokan cabai untuk memastikan harga tetap terkendali. Meskipun TPID tidak terlihat aktif bekerja di lapangan, Juaini menegaskan bahwa mereka terus memeriksa neraca pangan setiap minggu untuk memastikan ketersediaan bahan pokok tetap aman. “Kami memang tidak terlihat langsung di pasar, namun setiap minggu kami terus memantau neraca pangan untuk memastikan harga tetap stabil,” tambah Juaini.
Sinergi antara pemerintah daerah dan para petani ini diharapkan dapat terus menjaga stabilitas harga cabai di Lombok Timur meskipun kondisi cuaca kerap kali menjadi tantangan. Dengan langkah-langkah pengendalian yang tepat, inflasi dapat dicegah sehingga masyarakat tidak dirugikan oleh lonjakan harga yang tidak terkendali.
Keberhasilan para petani dalam memastikan kebutuhan lokal sebelum mengirim cabai ke luar daerah menjadi kunci utama dalam menjaga kestabilan harga. Ini tidak hanya berdampak positif bagi ekonomi lokal, tetapi juga memberikan rasa aman bagi masyarakat yang kerap kali terbebani dengan kenaikan harga cabai. “Dengan adanya langkah-langkah ini, kita berharap Lombok Timur dapat terus menjaga stabilitas harga cabai dan menghindari inflasi meski cuaca tidak selalu mendukung,” tutup Juaini.
Dengan ketersediaan cabai yang melimpah dan strategi pengiriman yang cermat, Lombok Timur berhasil menjaga kestabilan harga cabai di pasaran, memberikan harapan besar bagi masyarakat di tengah tantangan cuaca yang tidak menentu.















