Berita  

Harga Rumah Subsidi 2025 Tetap Rp185 Juta, Tapi Minat Beli di NTB Turun Drastis

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com – Di tengah stabilnya harga rumah subsidi yang tetap di angka Rp185 juta pada tahun 2025, penjualan properti di Nusa Tenggara Barat (NTB) justru menunjukkan tren melambat. Data dari DPD Real Estate Indonesia (REI) NTB mencatat, triwulan pertama tahun ini mengalami penurunan minat pembelian, baik untuk rumah subsidi maupun komersial, dibandingkan periode yang sama di tahun 2024.

BACA JUGA : BUMD Tioq Tata Tunaq Harus Bangkit! Ini Langkah Revolusioner untuk Selamatkan Masa Depan KLU

banner 325x300

Ketua DPD REI NTB, Herry Athmajaya, mengungkapkan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor krusial. Salah satunya adalah keterlambatan izin pembangunan perumahan baru, yang membuat pasokan unit terbatas. “Banyak pengembang yang belum bisa memulai proyek karena izinnya belum keluar. Otomatis, stok rumah untuk dijual pun berkurang,” jelas Herry.

Selain itu, Herry menyebutkan bahwa preferensi konsumen juga berperan besar. Calon pembeli saat ini cenderung lebih selektif, bahkan ada yang sudah menentukan lokasi spesifik sebelum memutuskan membeli. “Misalnya, ada yang ingin rumah di kawasan tertentu. Jika tidak tersedia, mereka memilih menunggu,” tambahnya.

Untuk menarik minat pembeli, sejumlah pengembang mulai menggelontorkan promo menarik, seperti DP rendah hingga 0%, gratis biaya notaris, dan diskon khusus. Namun, strategi ini belum sepenuhnya mampu mendongkrak penjualan. “Terkadang, pembeli sudah tertarik, tapi unitnya habis. Mereka terpaksa menunggu fase pembangunan berikutnya,” ujar Herry.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah kebijakan baru dari Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat) yang menerapkan trilogi perumahan. Meski tujuannya positif, kebijakan ini dinilai masih perlu adaptasi lebih lanjut dari para pengembang dan calon pembeli.

Meski demikian, Herry menegaskan bahwa para pengembang di NTB tetap berkomitmen untuk menjaga iklim bisnis yang sehat. “Tidak ada persaingan tidak sehat. Setiap perusahaan punya strategi sendiri, ada yang mengandalkan promo, ada juga yang fokus pada kualitas properti,” pungkasnya.

Dengan berbagai tantangan ini, industri properti NTB diharapkan bisa segera menemukan momentum pemulihan, terutama dengan dukungan kebijakan yang lebih kondusif dari pemerintah.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *