Berita  

Harga Tiket Mahal, NTB Terancam Kalah Saing di Peta Pariwisata Regional

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com – Tingginya harga tiket penerbangan dinilai bukan sekadar persoalan transportasi, tetapi telah menjadi ancaman serius bagi daya saing pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB). Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, wisatawan semakin berhitung ketat sebelum menentukan tujuan liburan.

Ketua Asosiasi Hotel Senggigi (SHA), I Ketut Murtajaya Kusuma, menegaskan bahwa mahalnya tiket pesawat membuat NTB berada pada posisi kurang menguntungkan dibandingkan destinasi lain di kawasan regional. “Wisatawan sekarang sangat sensitif terhadap biaya perjalanan. Kalau selisihnya terlalu jauh, mereka akan memilih destinasi lain,” ujarnya, Selasa (13/1).

banner 325x300

Menurut Ketut, anomali harga tiket penerbangan domestik di Indonesia menjadi persoalan klasik yang belum terselesaikan. Ia membandingkan kebijakan transportasi udara di negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, yang aktif memberikan subsidi untuk menjaga mobilitas dan menggerakkan ekonomi. Di Malaysia, rute Kuala Lumpur–Johor yang memakan waktu lebih lama bahkan bisa diakses dengan harga sekitar Rp 200 ribu.

“Kondisinya sangat kontras. Penerbangan Bali–Lombok saja kerap menembus lebih dari Rp 1 juta. Dalam situasi seperti ini, bagaimana NTB bisa bersaing?” kata General Manager Holiday Resort Lombok tersebut.

Meski demikian, Ketut melihat secercah harapan dari upaya Pemerintah Provinsi NTB yang mulai membuka peluang rute-rute baru, seperti Malang–Lombok dan Banyuwangi–Lombok. Rencana penguatan rute internasional Darwin–Lombok serta Lombok–Kuala Lumpur juga dinilai sebagai langkah strategis untuk memperluas pasar.

Ia menilai, semakin banyak maskapai yang melayani satu rute, maka mekanisme pasar akan berjalan lebih sehat. “Ketika kompetisi terbuka, harga akan menyesuaikan. Itu hukum pasar,” ujarnya.

Ketut menambahkan, pengalaman menunjukkan bahwa penurunan harga tiket berdampak langsung pada sektor perhotelan. Saat pemerintah memberikan stimulus tarif penerbangan pada momen tertentu, tingkat hunian hotel di NTB langsung melonjak. “Itu bukti nyata bahwa harga tiket punya korelasi kuat dengan denyut ekonomi daerah,” jelasnya.

Ia menegaskan, seluruh data dan keluhan pelaku industri sejatinya sudah berada di tangan pemerintah. Tantangan terbesar saat ini adalah keberanian untuk mengeksekusi kebijakan konkret. “Masalahnya sudah jelas, tinggal kemauan untuk bertindak,” pungkasnya.

Keluhan serupa juga datang dari wisatawan. Idham, wisatawan lokal asal NTB, mengaku sering mengurungkan niat bepergian karena mahalnya tiket pesawat. “Hari ini saja tiket Lombok–Bima bisa sampai Rp 1,5 juta. Dengan harga segitu, orang pasti berpikir ulang,” katanya.

Jika kondisi ini terus berlanjut, pelaku industri khawatir NTB tidak hanya kehilangan wisatawan, tetapi juga momentum untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi unggulan di kawasan timur Indonesia.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *