Tanjungtv.com – Persentase pelayanan kesehatan bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Lombok Utara (KLU) terus menunjukkan peningkatan setiap tahunnya, meski belum mencapai optimal. Dinas Kesehatan (Dikes) KLU berupaya keras untuk meningkatkan pelayanan kesehatan jiwa yang masih belum mencapai target maksimal. Dari data yang diperoleh, pelayanan kesehatan jiwa bagi ODGJ mengalami progres yang signifikan, namun sejumlah tantangan masih harus dihadapi.
Pada tahun 2022, Dikes KLU mencatat sebanyak 372 penderita ODGJ yang dilayani dari estimasi total penderita sebanyak 601 orang, sehingga persentase layanan mencapai 61,9 persen. Meski demikian, masih ada gap yang cukup besar dalam memberikan layanan optimal bagi penderita ODGJ di daerah tersebut. Hal ini mendorong Dikes KLU untuk terus memperbaiki sistem pelayanan kesehatan jiwa agar lebih menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan.
Tahun 2023, terjadi peningkatan signifikan dengan 507 penderita ODGJ yang berhasil dilayani dari estimasi 608 orang, menjadikan persentase layanan meningkat hingga 83 persen. Peningkatan ini menunjukkan adanya kesadaran dan respons yang lebih baik dari masyarakat terkait pentingnya kesehatan jiwa. Namun, tantangan masih tetap ada, terutama dalam hal sumber daya manusia dan tenaga medis yang terlatih khusus menangani gangguan jiwa.
Plt Kepala Dinas Kesehatan KLU, Suhardi, menyebutkan bahwa hingga Agustus 2024, sudah ada 437 penderita ODGJ yang dilayani dari estimasi total sebanyak 680 orang, dengan persentase layanan mencapai 64,26 persen. “Angka ini masih jauh dari target yang kami harapkan, namun kami terus berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan,” jelas Suhardi.
Pelayanan yang diberikan kepada ODGJ di KLU meliputi pemeriksaan kesehatan jiwa secara menyeluruh, termasuk psikiatrik dan status mental. Selain itu, edukasi tentang tata laksana pengobatan juga diberikan, serta dilakukan rujukan apabila diperlukan. “Kami juga telah melakukan pendataan dan pemetaan agar layanan ODGJ ini lebih tepat sasaran dan bisa diakses dengan lebih mudah oleh masyarakat,” tambah Suhardi.
Meski telah ada upaya yang signifikan, masalah utama yang dihadapi Dikes KLU adalah belum tersedianya spesialis dokter jiwa di wilayah tersebut. Pada seleksi CPNS terakhir, posisi dokter spesialis jiwa yang dibutuhkan tidak ada pelamarnya. Hal ini menjadi kendala besar dalam memberikan layanan optimal bagi penderita ODGJ. “Padahal, kehadiran dokter spesialis jiwa sangat penting untuk menangani kasus-kasus ODGJ secara langsung tanpa harus merujuk ke provinsi,” tegas Suhardi.
Suhardi berharap, pada seleksi CPNS mendatang, akan ada pelamar yang memenuhi kualifikasi sebagai dokter spesialis jiwa. Dikes KLU berkomitmen untuk memperjuangkan hal ini agar masyarakat Lombok Utara bisa mendapatkan layanan kesehatan jiwa yang lebih baik dan tidak harus merujuk ke rumah sakit di provinsi kecuali dalam kasus yang sangat berat.
Dikes KLU juga merencanakan untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan jiwa secara berkala. “Kami akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi agar masyarakat tidak malu untuk memeriksakan kesehatan jiwanya. Kesehatan mental itu penting, dan kami ingin setiap warga Lombok Utara mendapatkan akses yang mudah terhadap layanan ini,” tandas Suhardi.
Dengan adanya peningkatan pelayanan yang direncanakan, Dikes KLU optimis bahwa di tahun mendatang, persentase pelayanan ODGJ akan semakin meningkat dan mencapai target yang diharapkan. Suhardi juga menegaskan bahwa kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kesejahteraan masyarakat dan harus menjadi perhatian utama bagi seluruh elemen pemerintah dan masyarakat di Lombok Utara.















