Hati-Hati, Trik Saudagar Nakal! Sapi di Lombok Timur Diduga Terinfeksi PMK Padahal Hanya Penyakit Ringan.

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com, 18 Oktober 2024 – Peternak sapi di Lombok Timur diimbau untuk tidak termakan isu yang dihembuskan oleh oknum-oknum saudagar yang mencoba memanfaatkan ketakutan terkait Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) demi mendapatkan harga murah. Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Lombok Timur, Drh. Hultatang, meminta peternak agar lebih waspada terhadap informasi yang menyesatkan dan segera melaporkan ternak yang sakit kepada petugas.

“Jangan mudah percaya kalau sapi Anda dikatakan terjangkit PMK hanya karena terlihat pincang atau berliur. Itu hanya trik saudagar nakal agar sapi dijual murah. Silakan lapor kepada petugas bila ada ternak yang sakit,” tegas Drh. Hultatang dalam keterangannya pada Jumat (18/10).

banner 325x300

Menurutnya, tidak semua sapi yang mengalami gejala sakit pada kaki dan mulutnya terkena PMK. Ada beberapa penyakit sapi yang gejalanya sangat mirip dengan PMK, seperti Bovine Ephemeral Fever (BEF), yang juga dikenal sebagai demam tiga hari. Gejala dari BEF ini mencakup pincang dan mulut yang berliur, sama seperti PMK. “Sepintas lalu, sulit membedakan kedua penyakit ini. Itulah sebabnya, banyak peternak dan saudagar yang mengira sapi mereka terkena PMK, padahal sebenarnya itu penyakit lain yang tidak berbahaya,” tambah Hultatang.

Jangan Panik! Cek ke Petugas Sebelum Jual Murah

Drh. Hultatang menekankan pentingnya pemeriksaan dan uji laboratorium untuk memastikan apakah sapi benar-benar terjangkit PMK atau tidak. Proses ini melibatkan pengambilan sampel air liur sapi yang kemudian diuji di laboratorium. “Kami mendapati banyak sapi yang pincang dan berliur di Lombok Timur, tapi itu bukanlah tanda pasti PMK. Banyak dari mereka hanya menderita penyakit ringan yang bisa sembuh dengan cepat,” jelasnya.

Saat ini, status Lombok Timur masih dalam tahap menuju bebas PMK. Meski demikian, jumlah kasus PMK di daerah ini terbilang sangat rendah. Salah satu faktor yang memengaruhi rendahnya angka tersebut adalah tingginya tingkat vaksinasi sapi di Lombok Timur.

Vaksinasi Jadi Kunci Perlindungan Sapi

Kepala Disnakkeswan Lombok Timur, H. Masyhur, juga menambahkan bahwa tingkat vaksinasi sapi di Lombok Timur telah mencapai 90 persen untuk vaksinasi pertama hingga keempat. Namun, ia tidak memungkiri bahwa masih ada sapi-sapi yang belum divaksin, terutama sapi-sapi muda yang baru lahir atau yang berasal dari luar kabupaten.

“Sapi yang sudah divaksin tidak akan divaksin lagi jika belum waktunya, termasuk vaksin kedua, ketiga, dan keempat. Ada juga sapi indukan yang sudah divaksin, tetapi anaknya belum divaksin,” kata H. Masyhur. Ia mengimbau para peternak untuk segera melaporkan jika ada sapi baru yang belum divaksin agar dapat diberikan perlindungan dari penyakit ternak, termasuk PMK.

Pentingnya Vaksinasi Lengkap untuk Menghadapi PMK

Pemberian vaksin secara lengkap menjadi salah satu langkah utama untuk mencegah penyebaran PMK di kalangan ternak. Peternak yang disiplin dalam memberikan vaksin kepada sapi-sapinya akan sangat membantu menekan angka penyebaran penyakit. “Jika sapi sudah divaksin lengkap, kemungkinannya terkena penyakit, apalagi PMK, sangat kecil. Antibodi yang terbentuk dari vaksin akan melindungi ternak dari serangan virus,” tutup H. Masyhur.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lombok Timur juga terus melakukan pemantauan dan memberikan sosialisasi kepada peternak agar tidak termakan trik saudagar yang berusaha menakut-nakuti terkait PMK. Peternak diimbau untuk selalu berkonsultasi dengan petugas kesehatan hewan dan tetap menjaga kesehatan ternaknya dengan memberikan vaksinasi secara berkala.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *