Tanjungtv.com – Langit senja di Desa Teniga, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Selasa (17/2), menjadi saksi penting proses ilmiah penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah. Namun hasil pengamatan menunjukkan fakta tegas: hilal belum layak terlihat.
Tim Rukyat Stasiun Geofisika Mataram bersama Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) NTB melakukan observasi di Kantor Pusat Observasi Bulan (POB) yang menjadi salah satu titik strategis pemantauan nasional.
Data astronomi yang dihimpun memperlihatkan posisi bulan sabit masih berada di bawah ufuk saat matahari terbenam.Dalam laporan resmi yang diterima dari BMKG, ketinggian hilal tercatat minus 1,268 derajat dengan elongasi 1,208 derajat.
Angka ini menunjukkan secara ilmiah bahwa bulan sabit awal Ramadan belum memenuhi batas visibilitas yang ditetapkan.Secara teknis, posisi minus derajat berarti hilal masih berada di bawah garis horizon sehingga mustahil teramati, bahkan dengan bantuan teleskop optik sekalipun.
Dengan elongasi yang jauh di bawah ambang batas, cahaya bulan juga belum cukup terpisah dari cahaya matahari untuk bisa terlihat.Pengamatan di NTB merupakan bagian dari 96 titik rukyat yang digelar serentak di seluruh Indonesia.
Data dari berbagai wilayah tersebut menjadi bahan utama dalam Sidang Isbat Awal Ramadan 1447 H yang dijadwalkan berlangsung Selasa malam oleh Kementerian Agama RI.
Sidang isbat sendiri mengintegrasikan metode hisab dan rukyat. Pemerintah menggunakan kriteria imkan rukyat MABIMS, yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat agar dapat dinyatakan memenuhi syarat visibilitas.
Jika merujuk pada parameter tersebut, kondisi di NTB jelas masih jauh dari ketentuan. Artinya, secara sains astronomi, peluang terlihatnya hilal memang nihil.Di sisi lain, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal.
Metode ini berpatokan pada keberadaan bulan di atas ufuk, tanpa menunggu konfirmasi pengamatan visual.Perbedaan pendekatan ini kembali menjadi dinamika tahunan dalam penetapan awal bulan hijriah.
Namun pemerintah menegaskan bahwa perbedaan tersebut merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam yang harus disikapi dengan kedewasaan.Bagi umat Islam di NTB, hasil sidang isbat malam ini akan menjadi rujukan resmi dalam memulai ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah, sembari tetap menjaga persatuan dan kekhusyukan menyambut bulan suci.















