Tanjungtv.com – Gili Meno, salah satu destinasi wisata populer di Kabupaten Lombok Utara, kini menghadapi krisis air bersih. Masyarakat setempat mengeluhkan keterbatasan distribusi air yang dilakukan oleh pemerintah daerah (pemda). Setiap harinya, tiga kapal dikerahkan untuk mengangkut total 12.000 liter air dari daratan menuju lima titik lokasi di Gili Meno. Namun, pertanyaannya adalah, apakah jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga?
Kepala Dusun Gili Meno, Masrun, menyampaikan bahwa distribusi air bersih dari pemda sering kali tidak mencukupi. Masyarakat Gili Meno, yang menggantungkan hidup pada pariwisata, semakin gerah dengan kondisi ini, terlebih ketika janji pemerintah untuk menyediakan air bersih yang mencukupi dalam waktu 45 hari belum juga terpenuhi setelah tiga bulan berjalan. “Distribusi air tandon tidak maksimal, baru diisi beberapa jam habis. Ditambah lagi, pasang surut air laut mempengaruhi distribusi,” ujar Masrun, Sabtu (12/10).
Menurut data yang diungkapkan oleh Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) KLU, Rangga Wijaya, per hari mereka hanya mampu mengangkut 12.000 liter air menggunakan tiga kapal. Kapal-kapal tersebut membawa masing-masing 4.000 liter air ke lima titik di Gili Meno. Namun, jumlah air ini sering kali tidak mencapai seluruh warga karena faktor cuaca dan jarak distribusi. “Kalau cuaca buruk, kapal sering tidak bisa sandar di lokasi distribusi,” ungkap Rangga.
Dengan penduduk lokal dan wisatawan yang jumlahnya terus bertambah, kebutuhan air di Gili Meno semakin meningkat. Warga setempat mengandalkan air bersih tidak hanya untuk kebutuhan minum dan memasak, tetapi juga untuk sanitasi dan pariwisata. “Jumlah air yang dikirim jelas tidak mencukupi, apalagi kalau sudah ada tamu wisatawan yang datang. Dalam hitungan jam, air tandon habis,” keluh salah satu warga setempat.
Menurut perhitungan, setiap orang membutuhkan setidaknya 50 liter air per hari untuk kebutuhan dasar seperti mandi, minum, dan memasak. Jika ditotal, dengan populasi sekitar 500 orang di Gili Meno, dibutuhkan setidaknya 25.000 liter air per hari. Angka ini menunjukkan bahwa pasokan 12.000 liter per hari hanya memenuhi sekitar setengah dari kebutuhan warga.
Pihak pemda mengakui adanya keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan air bersih di pulau tersebut. Rangga Wijaya menambahkan bahwa distribusi air dengan kapal hanya merupakan solusi darurat yang berlangsung hingga akhir bulan ini. Setelah itu, pemenuhan air bersih diharapkan akan beralih ke Perumda Air Minum Amerta Dayan Gunung bekerja sama dengan PT Tiara Cipta Nirwana (TCN), yang sedang mengupayakan pemasangan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) portable. “Saat ini mereka sedang mengurus izin untuk SWRO portable itu. Pemasangan ini diharapkan bisa menjadi solusi sementara sebelum instalasi permanen selesai,” jelasnya.
Meskipun pemerintah daerah berupaya mencari solusi jangka panjang, masyarakat Gili Meno berharap agar krisis ini dapat segera diatasi. Keberlangsungan hidup mereka dan sektor pariwisata yang menjadi andalan ekonomi daerah sangat bergantung pada akses air bersih. Namun, dengan distribusi 12.000 liter air sehari, masih ada kekhawatiran bahwa kebutuhan warga Gili Meno belum sepenuhnya terpenuhi.
Sementara itu, masyarakat tetap berharap pemerintah segera memenuhi janji yang telah lama dinantikan. “Kami hanya ingin air bersih yang layak, tidak perlu janji lagi,” tutup Masrun penuh harap.















