Tanjungtv.com – Sebuah kontroversi memanas di media sosial setelah tersebarnya adegan tak pantas dari pertunjukan kesenian Jangger di salah satu acara di Lombok Timur. Netizen ramai-ramai mempertanyakan etika dan moralitas dari tontonan yang dipertunjukkan secara terbuka dan disaksikan oleh banyak kalangan, termasuk anak-anak dan remaja.
Kritikan pun datang dari berbagai pihak yang merasa resah, termasuk warga yang hadir dan mengamati langsung. Beberapa berpendapat bahwa konten tersebut seharusnya tidak disebarluaskan, karena berpotensi menimbulkan kerusakan moral. Namun, pertanyaan yang lebih besar adalah, bagaimana pertunjukan tersebut bisa terjadi tanpa pengawasan yang memadai? Apakah aturan dan etika budaya kita semakin tergerus?
Seorang warga yang enggan disebut namanya menuturkan, “Adegan ini sangat tidak pantas, apalagi disaksikan oleh anak-anak. Seharusnya, penyelenggara lebih bijak dalam memilih jenis hiburan, apalagi jika acaranya berlangsung di tempat terbuka. Kami berharap ada aturan lebih ketat terkait ini,” katanya dengan penuh kekecewaan.
Kesenian Tradisional yang Berubah Arah
Jangger, yang awalnya merupakan bagian dari seni budaya yang penuh nilai dan moral, kini dipandang semakin jauh dari esensinya. Alih-alih membawa pesan kebaikan dan kearifan lokal, beberapa pertunjukan malah menunjukkan gerakan dan adegan yang dianggap vulgar oleh banyak masyarakat. “Budaya itu luhur, tapi kalau digunakan untuk hal seperti ini, jelas jadi masalah. Ini bukan lagi budaya, ini eksploitasi,” ujar salah seorang pengamat seni lokal.
Di media sosial, kritik pun terus membanjiri unggahan terkait acara tersebut. Banyak yang menekankan pentingnya kontrol dan regulasi yang lebih ketat dari pihak penyelenggara acara adat atau hiburan masyarakat. Ada yang menyarankan agar pertunjukan seperti ini dilarang di desa-desa tertentu, sebagaimana yang telah dilakukan oleh beberapa wilayah lain di NTB. “Harusnya ada aturan seperti yang melarang tari tertentu tampil di desa. Kenapa? Karena pertunjukan seperti ini merusak moral anak-anak,” tulis seorang pengguna media sosial di kolom komentar unggahan viral.
Akankah Dibiarkan atau Dihentikan?
Ini bukan kali pertama masalah seperti ini mencuat. Beberapa wilayah di Lombok bahkan sudah mulai memberlakukan larangan keras terhadap kesenian yang dianggap berpotensi merusak moral, seperti yang dilakukan di beberapa desa yang melarang pertunjukan tertentu. Namun, nyatanya, masih banyak acara serupa yang terjadi dan terkesan luput dari perhatian pemerintah desa atau masyarakat setempat.
Pihak yang mengadakan acara tersebut, baik penyelenggara maupun undangan, tentu juga tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Mereka dianggap perlu diperingatkan secara tegas. Bagaimana mungkin sebuah acara besar, yang melibatkan banyak orang termasuk anak-anak, menyuguhkan tontonan yang tidak sesuai dengan norma sosial dan agama?
Seorang tokoh masyarakat Lombok Timur bahkan menyuarakan kekecewaannya secara terbuka. “Ini seperti memfasilitasi tindakan yang tidak senonoh. Bukan hanya yang tampil, tapi juga yang punya gawe. Kalau dibiarkan terus, lama-lama dianggap normal, dianggap biasa saja. Ini yang berbahaya!” tegasnya.
Banyak yang berpendapat bahwa jika masalah ini dibiarkan, akan semakin sulit mengendalikan norma sosial dan moral dalam masyarakat. Pemerintah desa diharapkan mengambil langkah tegas, termasuk membuat regulasi yang jelas terkait pertunjukan di ruang publik.
Pemerintah setempat, khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, didorong untuk mengeluarkan aturan ketat terkait jenis kesenian apa saja yang boleh dipertontonkan di acara-acara besar. “Sesuatu yang kurang baik kalau terus diberikan ruang, lama-lama dianggap biasa, dianggap baik-baik saja. Ini bahaya!” jelas seorang tokoh adat.
Langkah ini bukan hanya untuk menjaga moral generasi muda, tetapi juga untuk mempertahankan citra dan nilai-nilai luhur budaya tradisional yang sebenarnya sangat kaya dan bermakna. Namun, apakah pemerintah dan masyarakat siap mengambil sikap tegas? Atau akan terus membiarkan masalah ini mengalir tanpa solusi?
Pada akhirnya, pilihan ada di tangan masyarakat. Apakah kita akan terus membiarkan hal-hal seperti ini terjadi? Atau kita akan bergerak bersama untuk menghentikan segala bentuk tontonan yang tidak pantas di ruang publik? Ini bukan lagi soal hiburan, tetapi tentang masa depan moral generasi kita.
Jika kesenian yang luhur terus dikotori dengan hal-hal yang tidak sesuai, bagaimana kita bisa menjaga identitas budaya kita sendiri? Jangan sampai suatu hari nanti, apa yang dianggap tabu saat ini malah menjadi hal yang biasa di kemudian hari. Tindakan harus diambil sekarang!















