Kisah Pilu Siswa SMP di Lombok Utara, Jadi Korban Bullying, Kini Dikeroyok Hingga Tak Sadarkan Diri

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com – Sebuah kisah memilukan datang dari Lombok Utara, di mana seorang siswa SMP berinisial A (14 tahun) menjadi korban perundungan (bullying), Kali ini, ia mengalami pengeroyokan brutal oleh lima teman sekolahnya, hingga harus dilarikan ke puskesmas dengan luka serius.

BACA JUGA : Lombok Utara Cetak Sejarah! 43 Desa Sukses Bentuk Koperasi Merah Putih, Siap Gerakkan Ekonomi Lokal

banner 325x300

Ibu korban, yang dikenal dengan akun Facebook Bunda Raden Novrialdi S, mengungkapkan kepedihan keluarganya melalui unggahan viral. Ia menceritakan bahwa anaknya telah menjadi sasaran bullying sejak masih duduk di bangku TK.

“Ini bukan pertama kali. Sebelas tahun lalu, anak saya dibully dan dikeroyok teman TK sampai harus opname seminggu di rumah sakit. Saat itu, saya memaafkan karena menganggap mereka masih anak-anak. Tapi kini, kejadian serupa terulang,” tulisnya.

Beberapa bulan lalu, korban sempat dicekik hingga meninggalkan bekas kuku di leher. Namun, kasus itu hanya diselesaikan di tingkat dusun. Kali ini, nasib malang kembali menimpa A. Saat ia berbelanja bersama dua adiknya, dua pelaku menghadang dan memprovokasi hingga berujung pengeroyokan di sebuah kebun.

“Mereka meninju kepalanya, menendang dadanya, hingga ia tak sadarkan diri. Adik-adiknya menangis histeris memanggil warga,” jelas kuasa hukum korban, Eva Lestari.

Lima pelaku, yang masih satu sekolah dengan korban, kini diamankan di Polres Lombok Utara. Kepala UPTD PPA KLU, Ni Putu Rumini, memastikan kasus ini ditangani serius, meski seluruh pihak terlibat masih di bawah umur.

“Kami akan terus mendampingi korban dan memastikan proses hukum berjalan adil,” tegasnya.

Kuasa hukum korban menegaskan, bullying bukan sekadar ejekan, melainkan pintu gerbang kekerasan fisik yang bisa berakibat fatal. “Kami minta kasus ini tidak berhenti di mediasi. Pelaku harus merasakan konsekuensi hukum sebagai pembelajaran,” ujar Eva.

Kepala Desa Sigar Penjalin, Zawil Fadli, turut menyuarakan pentingnya pencegahan bullying di lingkungan sekolah. “Kami mendukung program anti-bullying dan akan memastikan ada mekanisme pelaporan yang aman bagi siswa,” ungkapnya.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak: bullying adalah kejahatan yang merusak masa depan anak. Tanpa penanganan tegas, korban berikutnya bisa saja kehilangan nyawa.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *