Tanjungtv.com – Krisis air yang melanda kawasan wisata Tiga Gili (Trawangan, Meno, dan Air) menjadi sorotan utama, tidak hanya karena dampaknya terhadap sektor pariwisata, tetapi juga terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Lombok Utara (KLU). Selama ini, ketiga pulau tersebut menjadi tulang punggung pariwisata NTB, dengan kontribusi besar pada ekonomi daerah melalui wisatawan domestik dan mancanegara.
Namun, sejak pencabutan izin pengeboran dan pemasangan pipa air oleh PT Tiara Cipta Nirwana (TCN), pasokan air bersih di kawasan ini menjadi terbatas. Hal ini langsung berdampak pada kenyamanan wisatawan yang berkunjung, sehingga jumlah pengunjung mulai menurun secara signifikan. Ketua Gili Hotel Association (GHA), Lalu Kusnawan, mengungkapkan bahwa jumlah wisatawan yang berkunjung ke Gili Trawangan, yang biasanya mencapai 2.800 orang per hari pada awal Oktober 2024, kini hanya tersisa sekitar 2.100 wisatawan per hari.
“Penurunan ini tidak hanya memengaruhi tingkat okupansi hotel, tetapi juga mengancam kelangsungan usaha lokal, yang selama ini sangat bergantung pada pariwisata,” ujar Kusnawan. Ia menambahkan bahwa dampak penurunan ini juga akan dirasakan oleh PAD Lombok Utara, yang sebagian besar berasal dari sektor pariwisata di Tiga Gili.
Dampak Krisis Air Terhadap Ekonomi Lokal
Krisis air yang terjadi di Gili Trawangan dan sekitarnya telah menyebabkan para pelaku usaha mulai merasakan penurunan omzet yang signifikan. Beberapa pelaku bisnis perhotelan bahkan melaporkan adanya pembatalan pemesanan kamar oleh wisatawan, karena tidak ada jaminan ketersediaan air bersih selama mereka tinggal. Menurut Kusnawan, kondisi ini berpotensi memicu kerugian finansial yang cukup besar, seperti yang terjadi pada krisis air sebelumnya di bulan Juni 2024.
“Pada bulan Juni lalu, kami mengalami kerugian hingga Rp 27 miliar hanya dari sektor penginapan dan transportasi akibat krisis air selama lima hari. Jika situasi ini berlanjut, kerugian bisa jauh lebih besar,” kata Kusnawan.
Tak hanya di Gili Trawangan, dampak krisis air juga dirasakan di Gili Meno dan Gili Air. Kedua pulau ini mengandalkan penyulingan air laut untuk memenuhi kebutuhan air tawar, tetapi kapasitas penyulingan yang terbatas membuat pasokan air bersih menjadi tidak memadai. Hal ini semakin memperparah situasi di tengah meningkatnya jumlah wisatawan yang datang.
Pariwisata Sebagai Penopang PAD Lombok Utara
Sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di NTB, Tiga Gili selama ini berperan besar dalam mendongkrak PAD Lombok Utara. Kawasan ini menarik ribuan wisatawan setiap harinya, yang menggerakkan perekonomian lokal melalui bisnis perhotelan, restoran, dan transportasi wisata. Namun, krisis air yang berkepanjangan ini mengancam kelangsungan sektor pariwisata tersebut.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata NTB, Jamaludin Malady, pemerintah daerah harus segera bertindak untuk menyelesaikan masalah ini. “Tiga Gili adalah aset berharga bagi pariwisata NTB dan sumber PAD terbesar bagi Lombok Utara. Jika krisis ini tidak segera diatasi, bukan hanya pelaku usaha yang dirugikan, tetapi juga pemerintah daerah yang akan kehilangan potensi pendapatan,” ujar Jamaludin.
Ia menekankan bahwa solusi jangka panjang harus segera diterapkan, salah satunya dengan membangun jaringan pipa air bersih dari daratan Lombok Utara ke Tiga Gili. “Ke depan, PDAM harus membangun pipa dari daratan ke Gili Air, Gili Meno, hingga Gili Trawangan. Ini adalah solusi terbaik untuk memastikan ketersediaan air bersih di kawasan tersebut,” tambahnya.
Keberlanjutan Sektor Pariwisata di Tengah Krisis
Meskipun Tiga Gili tetap menjadi daya tarik wisata utama di NTB, krisis air yang berlangsung ini bisa menjadi titik kritis bagi keberlanjutan sektor pariwisata di kawasan tersebut. Jika tidak segera diatasi, wisatawan bisa kehilangan kepercayaan dan memilih destinasi lain yang menawarkan fasilitas lebih memadai. Hal ini dapat berdampak jangka panjang pada perekonomian lokal dan PAD Lombok Utara.
Para pelaku usaha di Tiga Gili berharap agar pemerintah daerah segera mengambil tindakan nyata untuk menyelesaikan krisis ini. Mereka juga mengusulkan agar kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta ditingkatkan guna mencari solusi yang efektif dan berkelanjutan.
“Kami para pelaku usaha sangat berharap agar pemerintah segera memberikan solusi yang jelas dan cepat. Jika tidak, kami akan kehilangan banyak pelanggan, dan Lombok Utara akan kehilangan sumber pendapatan utamanya,” kata Kusnawan.
Pemerintah Daerah Didorong Segera Bertindak
Sebagai tindak lanjut dari krisis ini, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara sedang menjajaki kemungkinan pembangunan jaringan pipa air bersih yang diusulkan oleh PDAM setempat. Namun, proses ini membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, para pengusaha berharap agar pemerintah dapat memberikan solusi jangka pendek untuk mengatasi kekurangan air bersih yang sudah sangat mendesak.
“Jika tidak segera diatasi, krisis air ini akan memicu efek domino pada sektor-sektor lain. Pariwisata di Tiga Gili adalah sumber PAD utama bagi Lombok Utara, dan jika sektor ini runtuh, dampaknya akan sangat besar bagi perekonomian daerah,” tambah Jamaludin.
Harapan Pemulihan
Meskipun kondisi saat ini cukup kritis, para pelaku usaha dan pemerintah daerah optimistis bahwa dengan langkah yang tepat, pariwisata di Tiga Gili dapat pulih dan kembali menjadi motor penggerak ekonomi Lombok Utara. Kolaborasi antara pemerintah, PDAM, dan para pelaku usaha diharapkan bisa membawa solusi jangka panjang yang tidak hanya mengatasi krisis air, tetapi juga memastikan kelangsungan pariwisata yang berkelanjutan di kawasan tersebut.
Keberhasilan dalam menyelesaikan masalah ini juga akan menjadi contoh bagi destinasi wisata lain di Indonesia, yang menghadapi tantangan serupa terkait infrastruktur dasar.















