Tanjungtv.com – Kabupaten Lombok Utara (KLU) membuktikan komitmennya dalam memerangi stunting dengan serangkaian aksi nyata. Meski angka stunting di KLU tercatat 13,5%—lebih rendah dari target nasional—pemerintah daerah tak berpuas diri. Tahun ini, mereka menargetkan penurunan hingga 10% melalui strategi terpadu yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
BACA JUGA : Pemilik Toko di Lombok Utara Sambut Hangat Aksi Petugas Tempel Stiker PBG – Begini Respons Mereka!
Baru-baru ini, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBPMD) KLU menggelar Rapat Koordinasi Tim Posyandu Tingkat Kabupaten 2025. Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Kusmalahadi Syamsuri, didampingi Ketua Tim Pembina Posyandu Rohani Najmul Akhyar dan Kepala DP2KBPMD Malasiswadi.
Wabup Kusmalahadi menegaskan, rapat ini menjadi langkah strategis untuk mencapai enam Standar Pelayanan Minimum (SPM) di posyandu. “Koordinasi kuat antara kader, dinas, dan masyarakat adalah kunci utama. Posyandu harus jadi garda terdepan dalam memastikan kesehatan ibu dan anak,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya inovasi pencatatan dan pelaporan digital untuk mempermudah pemantauan kasus stunting. “Data akurat dan terintegrasi akan membantu kita mengidentifikasi masalah lebih cepat dan mengambil solusi tepat,” tambahnya.
Rohani Najmul Akhyar menambahkan, rapat ini fokus pada evaluasi delapan proyek prioritas yang masih menghadapi kendala teknis. “Kami ingin memastikan setiap kader posyandu paham betul teknis pelayanan, mulai dari pemantauan gizi hingga pendampingan keluarga,” ujarnya.
Malasiswadi, Kepala DP2KBPMD, menekankan transformasi peran posyandu sesuai Permendagri No. 13/2024. “Posyandu kini bukan hanya tentang imunisasi dan timbangan bayi, tapi juga pusat pendampingan keluarga holistik. Target kami: generasi 2045 yang sehat, cerdas, dan berdaya saing global!”
Semangat kolaborasi ini telah memicu optimisme baru. Dengan dukungan 320 posyandu aktif dan ribuan kader terlatih, KLU siap jadi contoh keberhasilan penurunan stunting secara sistematis. “Ini bukan sekadar angka, tapi masa depan anak-anak Lombok Utara yang lebih cerah,” pungkas Malasiswadi.
Upaya KLU membuktikan: perlawanan terhadap stunting butuh konsistensi, kreativitas, dan gotong royong. Dari Tanjung Menangis menuju Tanjung Senyum, langkah mereka patut diapresiasi!















