Tanjungtv.com — Kondisi Pasar Tanjung, Kecamatan Tanjung, kembali menjadi sorotan publik. Pasar terbesar di Kabupaten Lombok Utara (KLU) ini nyaris selalu tergenang setiap musim hujan. Banjir, lumpur, bau tak sedap, hingga tumpukan sampah bukan lagi persoalan musiman, melainkan masalah kronis yang berdampak langsung terhadap roda perekonomian pedagang.
Anggota DPRD KLU Fraksi Gerindra, Artadi, menilai situasi tersebut sudah masuk tahap darurat. Menurutnya, kondisi pasar yang tidak sehat membuat pengunjung enggan berbelanja sehingga omzet pedagang terus tergerus. “Ini bukan lagi keluhan tahunan, tapi ancaman serius terhadap aktivitas ekonomi masyarakat,” tegasnya, Senin (19/1).
Salah satu penyebab utama banjir adalah posisi Pasar Tanjung yang kini lebih rendah dari jalan nasional. Aliran air hujan dari jalan langsung masuk ke area pasar karena sistem drainase tidak berfungsi optimal. Akibatnya, air seharusnya mengalir ke saluran, justru menggenangi lapak pedagang.
Artadi mendorong Pemerintah Daerah KLU untuk segera mengambil langkah strategis jangka panjang, termasuk mempertimbangkan relokasi atau pembangunan ulang pasar dengan elevasi lebih tinggi. “Kalau dibiarkan, kondisi ini akan terus berulang dan merugikan pedagang,” ujarnya.
Masalah sampah juga tak kalah serius. Aktivitas pasar menghasilkan volume sampah yang besar dan membutuhkan penanganan ekstra. Artadi menyebut, penumpukan sampah tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.
Selain itu, lokasi Pasar Tanjung yang berada di jalur strategis, tepat di pinggir jalan nasional, menjadikan kondisinya sebagai wajah daerah. “Di sekitarnya ada kantor-kantor dan rencana pembangunan Bank BPR NTB. Kalau pasar tetap kotor dan tergenang, ini tentu mencoreng citra daerah,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan KLU, Haris Nurdin, menjelaskan bahwa pemerintah daerah terus melakukan perbaikan sesuai kemampuan anggaran. Tahun lalu, sekitar Rp100 juta dialokasikan untuk perbaikan toilet. Tahun ini, sekitar Rp400 juta disiapkan untuk memperbaiki atap bocor dan drainase.
Namun, Haris mengakui bahwa perbaikan menyeluruh membutuhkan anggaran puluhan miliar rupiah, yang sulit dipenuhi hanya dari APBD, apalagi di tengah kebijakan efisiensi. “Kami sudah beberapa kali mengajukan proposal ke pemerintah pusat, terakhir akhir tahun kemarin, tapi belum ada respons,” ungkapnya.
Terkait sampah, pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup. Petugas kebersihan dinilai sudah bekerja maksimal, namun masih diperlukan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Dengan kondisi yang terus berulang setiap tahun, Pasar Tanjung kini berada di persimpangan. Tanpa langkah besar dan terencana, pasar kebanggaan KLU ini berisiko terus kehilangan daya tarik dan fungsi ekonominya bagi masyarakat.















