Revolusi Digital di Gili Tramena, Sistem Retribusi Daring Picu Protes Wisatawan

banner 120x600
banner 468x60

Tanjungtv.com – Kawasan wisata Gili Tramena (Trawangan, Meno, dan Air) resmi memasuki era digital dengan sistem pembayaran retribusi daring. Namun, gebrakan ini justru menuai gelombang keluhan dari para pengunjung yang gagap teknologi. Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara (KLU) pun berjanji melakukan transformasi besar-besaran untuk menyelamatkan kenyamanan wisatawan.

BACA JUGA : Lombok Utara, 75% Warga Bayan Patuh Bayar Pajak Kendaraan

banner 325x300

PT Easybook Teknologi Indonesia, mitra resmi pemungutan retribusi, telah mengubah wajah pembayaran di Gili Tramena sejak 24 April 2025. Sayangnya, antusiasme pemerintah daerah belum sepenuhnya diimbangi kesiapan wisatawan. Banyak pengunjung—terutama yang berasal dari luar negeri atau generasi tua—kaget karena harus mengunduh aplikasi khusus dan melakukan pembayaran via QRIS. Proses yang memakan waktu 5-6 menit per transaksi ini disebut mengganggu kelancaran kunjungan.

Fadli, Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran Dinas Pariwisata KLU, mengakui bahwa sosialisasi yang minim menjadi biang kerok masalah ini. “Kami sadar ini belum sempurna. Tapi ini langkah awal untuk transparansi dan meminimalisir kebocoran pendapatan daerah,” tegasnya.

Meski belum memicu antrean panjang, ancaman chaos di musim puncak liburan mengintai. Fadli memastikan timnya sedang menyusun strategi darurat, termasuk sosialisasi masif melalui travel agent dan platform pemesanan tiket online. “Kami ingin saat wisatawan tiba di lokasi, mereka sudah siap membayar dengan cepat,” tambahnya.

Tarif retribusi tetap Rp10.000 untuk wisatawan domestik dan Rp20.000 untuk mancanegara. Sistem ini juga memastikan setiap rupiah masuk ke kas negara tanpa potongan—kecuali 7% untuk imbal jasa PT Easybook.

Para pelaku usaha wisata setempat berharap evaluasi ini tak sekadar wacana. “Kalau terus bermasalah, reputasi Gili Tramena bisa terancam. Turis sekarang sangat cerewet dengan pengalaman tanpa hambatan,” ujar salah seorang pengelola homestay di Gili Trawangan.

Dengan langkah ini, KLU menjadi pionir transparansi retribusi wisata berbasis teknologi. Tantangannya kini: membuktikan bahwa efisiensi dan kenyamanan wisatawan bisa berjalan beriringan.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *